Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia tidak percaya terhadap isu ijazah palsu Presiden Joko Widodo.
Dalam survei yang dilakukan pada periode 28 Mei hingga 12 Juni 2025 terhadap 1.200 responden di seluruh Indonesia, ditemukan bahwa 74,6 persen responden menyatakan tidak percaya Jokowi menggunakan ijazah palsu.
Yang menarik, kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan paling rendah justru menjadi yang paling tidak percaya pada isu tersebut.
Sebanyak 81,5 persen responden lulusan SD ke bawah menyatakan tidak percaya. Angka ini menurun pada lulusan SMP (73,7 persen) dan SMA (69,8 persen).
Sementara itu, dari kalangan lulusan D3 ke atas, justru muncul angka tertinggi yang percaya terhadap isu tersebut, yakni sebesar 20,6 persen.
Segmentasi tempat tinggal juga menunjukkan tren serupa.
Responden di daerah perkotaan cenderung lebih banyak yang percaya isu ijazah palsu dibanding masyarakat di pedesaan, yaitu 16,3 persen banding 10,4 persen.
Dari sisi usia, generasi Z menjadi kelompok terbanyak yang percaya pada isu ini (14,3 persen), mengungguli generasi X (13,8 persen), baby boomer (11,9 persen), dan milenial (9,5 persen).
Secara keseluruhan, hanya 12,2 persen responden yang mengaku cukup percaya atau sangat percaya bahwa ijazah Jokowi palsu, sementara sisanya (13,2 persen) menyatakan tidak tahu atau enggan menjawab.