Perhimpunan Pendidikan dan Guru menilai pelaksanaan program makan bergizi gratis mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah.
Ketua Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan banyak guru kehilangan satu jam pelajaran setiap hari demi mendukung pelaksanaan program tersebut.
Iman menyebut pelaksanaan MBG justru menjadi distraksi karena guru harus mengurus aspek teknis distribusi makanan di sekolah.
Ia menjelaskan sekolah sejak awal tidak dirancang sebagai lokasi distribusi makanan berskala besar.
Menurutnya, berbeda dengan negara lain yang memiliki dapur sekolah, Indonesia memaksakan pelaksanaan MBG tanpa kesiapan desain infrastruktur pendidikan.
Kondisi tersebut membuat sekolah harus mengorbankan waktu belajar untuk menjalankan program MBG.
P2G juga menyoroti penggunaan anggaran pendidikan yang besar untuk MBG, sementara persoalan mendasar seperti kesejahteraan guru honorer belum terselesaikan.
Iman menilai situasi tersebut ironis karena masih ada guru honorer yang digaji Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per bulan.
Ia membandingkan nilai satu porsi MBG per hari yang hampir setara dengan gaji harian guru honorer.
Menurut Iman, jika MBG dibiayai dari anggaran pendidikan, maka seharusnya program itu memiliki mandat pendidikan yang jelas.
Namun di lapangan, MBG justru mengalihkan fokus guru dan siswa dari proses belajar.
P2G juga menerima laporan adanya tekanan berjenjang agar persoalan MBG tidak disuarakan ke publik.
Iman menyebut siswa ditekan guru, guru ditekan kepala sekolah, dan kepala sekolah ditekan dinas pendidikan.
Selain itu, ia menyoroti pelaksanaan MBG saat libur sekolah yang tetap berjalan meski kegiatan belajar dihentikan.
Distribusi makanan saat libur sekolah diganti dengan makanan kering atau ultra-proses yang dinilai tidak mendukung pendidikan dan pola makan sehat.
Iman menegaskan MBG tidak bisa diklaim sebagai program pendukung pendidikan selama persoalan utama dunia pendidikan belum dibereskan.
Menurutnya, mandat pendidikan program MBG menjadi gugur ketika pendidikan itu sendiri tidak diurus dengan baik.