Kegiatan refleksi 28 tahun Reformasi 1998 yang dirancang sejumlah akademisi, mahasiswa, dan pekerja batal digelar setelah izin penggunaan tempat dibatalkan secara sepihak. Acara yang dijadwalkan berlangsung Kamis (21/5/2026) itu sedianya menjadi ruang evaluasi perjalanan reformasi di Indonesia.
Panitia acara, Ubedilah Badrun atau Kang Ubed, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membahas berbagai cita-cita reformasi seperti kesejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, demokratisasi, hingga pendidikan.
“Kembali merenung dan refleksi atas peristiwa reformasi 28 tahun lalu itu dan mencermati realitas kondisi Indonesia saat ini,” kata Kang Ubed melalui layanan pesan, Jumat (22/5).
Ia menyebut sejumlah tokoh seperti Sukidi, Otib Satibi, Anthony Budiawan, hingga Abraham Samad dijadwalkan hadir dalam acara tersebut.
Panitia sebelumnya telah mendapat konfirmasi penggunaan ruangan di Gedung UTC-UNJ atau Hotel Naraya, Jakarta, dan biaya sewa juga sudah dibayarkan.
“Kami dapat menggunakan ruangan di gedung ini dengan sewa yang telah disepakati dan telah kami bayar,” ujar Kang Ubed.
Namun, pada hari pelaksanaan, pihak Naraya membatalkan izin penggunaan tempat tanpa penjelasan rinci.
“Hanya ada kalimat bahwa pembatalan tersebut dikarenakan alasan satu dan lain hal,” kata dia.
Menurut Kang Ubed, pihak hotel menyebut pembatalan dilakukan setelah menerima telepon dari pihak lain.
“Tanpa menyebutkan siapa pihak lain yang dimaksud,” ujar aktivis 1998 itu.
Panitia pun menilai pembatalan tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap ruang demokrasi.
“Tentu ini tanda pembungkaman dan makin merusak demokrasi di Indonesia,” kata dia.
Peringatan 28 Tahun Reformasi Gagal Digelar, Panitia Soroti Dugaan Pembungkaman
Kegiatan refleksi 28 tahun Reformasi 1998 yang dirancang sejumlah akademisi, mahasiswa, dan pekerja batal digelar setelah izin penggunaan tempat dibatalkan secara sepihak. Acara yang dijadwalkan berlangsung Kamis (21/5/2026) itu sedianya menjadi ruang evaluasi perjalanan reformasi di Indonesia.
Panitia acara, Ubedilah Badrun atau Kang Ubed, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membahas berbagai cita-cita reformasi seperti kesejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, demokratisasi, hingga pendidikan.
“Kembali merenung dan refleksi atas peristiwa reformasi 28 tahun lalu itu dan mencermati realitas kondisi Indonesia saat ini,” kata Kang Ubed melalui layanan pesan, Jumat (22/5).
Ia menyebut sejumlah tokoh seperti Sukidi, Otib Satibi, Anthony Budiawan, hingga Abraham Samad dijadwalkan hadir dalam acara tersebut.
Panitia sebelumnya telah mendapat konfirmasi penggunaan ruangan di Gedung UTC-UNJ atau Hotel Naraya, Jakarta, dan biaya sewa juga sudah dibayarkan.
“Kami dapat menggunakan ruangan di gedung ini dengan sewa yang telah disepakati dan telah kami bayar,” ujar Kang Ubed.
Namun, pada hari pelaksanaan, pihak Naraya membatalkan izin penggunaan tempat tanpa penjelasan rinci.
“Hanya ada kalimat bahwa pembatalan tersebut dikarenakan alasan satu dan lain hal,” kata dia.
Menurut Kang Ubed, pihak hotel menyebut pembatalan dilakukan setelah menerima telepon dari pihak lain.
“Tanpa menyebutkan siapa pihak lain yang dimaksud,” ujar aktivis 1998 itu.
Panitia pun menilai pembatalan tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap ruang demokrasi.
“Tentu ini tanda pembungkaman dan makin merusak demokrasi di Indonesia,” kata dia.