MELIHAT INDONESIA – Bayangkan diri Anda berada di atas perahu kecil yang tenang, berlayar di antara aliran sungai yang dikelilingi oleh kehidupan yang tak henti-hentinya bergerak. Suara para pedagang bersahutan, menawarkan dagangan dengan semangat yang begitu hidup. Inilah keajaiban Pasar Terapung Banjarmasin, sebuah jantung ekonomi yang berdetak di atas air dan telah menjadi bagian integral dari budaya lokal Kalimantan Selatan.
Setiap pagi, deretan jukung—sampan tradisional khas Kalimantan—mulai bergerak, menawarkan beragam hasil bumi dan produk lokal. Dari buah-buahan hingga makanan tradisional, semuanya tersaji dengan cara yang penuh kehangatan dan kekhasan budaya.
Mengalir Bersama Sejarah yang Hidup
Pasar terapung ini bukan sekadar tempat jual beli; ia adalah saksi sejarah panjang yang terus mengalir mengikuti aliran Sungai Barito. Sejak abad ke-14, pasar ini telah menjadi pusat perdagangan penting, bahkan sebelum Kerajaan Banjar berdiri. Pelabuhan Sungai Bandarsih kala itu menjadi penghubung antara pedagang dari Gujarat, Cina, dan berbagai daerah lainnya, menjadikan pasar ini titik temu berbagai budaya dan tradisi.
Selama masa kejayaan Kerajaan Banjar, pasar terapung menjadi pusat peredaran barang dagangan seperti rempah-rempah, kain, hingga barang antik. Statusnya sebagai aset penting negara diakui pada tahun 1980, mengukuhkan keberadaan pasar ini dalam sejarah nasional Indonesia.
Destinasi Wisata Unik di Kalimantan Selatan

Kini, Pasar Terapung Banjarmasin menjadi destinasi wisata ikonik, dengan tiga lokasi utama yang masih beroperasi: Pasar Terapung Kuin Alalak, Lok Baintan, dan Siring. Masing-masing menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung. Pasar-pasar ini mulai ramai sejak dini hari hingga menjelang siang, ketika para pedagang dan pembeli berinteraksi dalam suasana hangat yang penuh dengan kekhasan budaya lokal.
Pasar Terapung Lok Baintan, misalnya, dikenal dengan sistem barter yang masih dipraktikkan hingga kini. Transaksi di sini bukan hanya menggunakan uang, tetapi juga pertukaran barang, sebuah tradisi kuno yang masih hidup. Ini adalah bukti nyata dari kearifan lokal yang tetap terjaga, meskipun dunia terus berubah.
Seperti yang pernah diungkap dalam sebuah video di kanal Youtube @bangbew, “Pasar terapung Lok Baintan ini telah berlangsung selama ratusan tahun. Para pedagang, kebanyakan perempuan dengan topi caping lebar dari daun rumbia, menjajakan dagangan mereka sambil menggunakan jukung yang khas. Bahkan, di sini masih menggunakan sistem barter atau bapanduk dalam bahasa Banjar.”
Di sisi lain, Pasar Terapung Kuin Alalak menawarkan pesona tersendiri dengan para pedagangnya, yang sebagian besar adalah ibu-ibu yang mengenakan pupur dingin di wajah mereka. Dengan topi lebar dan senyuman ramah, mereka menjajakan hasil bumi sambil menghibur pembeli dengan pantun dan sapaan penuh keramahan. Selain bahan pangan, makanan tradisional seperti nasi kuning, kerupuk ikan, hingga soto banjar juga menjadi daya tarik yang sulit dilewatkan.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Namun, di balik pesona yang menawan ini, pasar terapung menghadapi tantangan besar. Perkembangan zaman dan kemunculan pusat perbelanjaan modern telah menggeser minat masyarakat, menyebabkan penurunan pengunjung. Menurut data Dinas Pariwisata Banjarmasin, kunjungan ke pasar terapung telah menurun sekitar 30% dalam beberapa tahun terakhir.
Pasar Terapung Kuin Alalak bahkan sempat mati suri karena sepinya pengunjung. Namun, dengan upaya revitalisasi yang serius dari pemerintah dan masyarakat lokal, pasar ini kembali hidup pada tahun 2019. Program pelatihan pemasaran digital dan manajemen keuangan diberikan kepada para pedagang, membantu mereka beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tren wisata.
Pasar terapung bukan sekadar tempat perdagangan; ia adalah simbol dari kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mengunjungi pasar ini berarti turut serta dalam pelestarian warisan budaya dan ekonomi lokal. Di atas air yang mengalir, pasar ini tetap berdiri kokoh, mencerminkan semangat masyarakat Banjarmasin yang tak pernah pudar.
Pasar Terapung Banjarmasin, dengan segala keindahan dan tantangannya, adalah cerminan dari bagaimana tradisi dan ekonomi dapat hidup berdampingan, menciptakan harmoni yang unik dan penuh makna bagi mereka yang berkunjung. (**)