Jumat, Mei 29, 2026

Rupiah Masih Tertekan, Target Purbaya ke Rp 15.000 Dinilai Berat

Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Pada perdagangan terbaru, dolar Amerika Serikat (AS) tercatat berada di kisaran Rp 17.853. Di tengah pelemahan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis rupiah bisa kembali menguat ke level Rp 15.000 per dolar AS.

“Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000. Kalau kata Pak Presiden, ‘Purbaya senyum, ekonomi aman.’ Ini senyum terus nih,” ujar Purbaya dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai target tersebut sulit tercapai. Menurutnya, sejak 2008 hampir tidak ada kasus rupiah yang sudah melemah tajam lalu kembali menguat signifikan.

“Jadi hampir tidak mungkin ketika rupiah sudah tembus level psikologis 17.000 dan 18.000 maka dia akan kembali lagi ke level 15.000,” kata Bhima kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).

Bhima menyebut tekanan rupiah dipengaruhi sentimen negatif investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk DHE SDA dan rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

“Bahkan kebijakan-kebijakan seperti DHE ditahan itu juga akan memicu peralihan, dan ini sudah terlihat banyak yang sedang berjaga-jaga dengan menjual rupiah dan masuk ke deposito valas, masuk ke deposito dolar Amerika Serikat,” terang Bhima.

“Artinya permintaan dolar baik dari sisi pelaku usaha maupun rumah tangga itu meningkat. Nah ini jadi tidak bisa diselesaikan dengan DHE wajib masuk kemudian badan ekspor nasional atau DSI. Masalahnya bukan di situ,” ujarnya lagi.

“Jadi tidak mungkin target berubah rupiah bisa kembali lagi ke 15.000 terhadap dolar gitu ya atau dolarnya kembali ke Rp 15.000,” tandasnya.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi juga menilai target tersebut sulit direalisasikan di tengah kondisi ekonomi global dan domestik saat ini.

“Ya itu angan-angan. Setiap wawancara kan selalu bilang ‘apakah bisa ke Rp 15.000?’, ‘Oh pasti bisa ke Rp 15.000’. Itu enteng untuk diucapkan,” ujar Ibrahim.
Ia menyoroti tingginya beban impor minyak dan tekanan terhadap APBN akibat pelemahan rupiah.

“Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini,” tutur Ibrahim.

Selain faktor global, keraguan investor asing terhadap kepastian regulasi di Indonesia juga dinilai ikut memberi tekanan pada rupiah.

Rupiah Masih Tertekan, Target Purbaya ke Rp 15.000 Dinilai Berat

Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Pada perdagangan terbaru, dolar Amerika Serikat (AS) tercatat berada di kisaran Rp 17.853. Di tengah pelemahan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis rupiah bisa kembali menguat ke level Rp 15.000 per dolar AS.

“Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000. Kalau kata Pak Presiden, ‘Purbaya senyum, ekonomi aman.’ Ini senyum terus nih,” ujar Purbaya dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai target tersebut sulit tercapai. Menurutnya, sejak 2008 hampir tidak ada kasus rupiah yang sudah melemah tajam lalu kembali menguat signifikan.

“Jadi hampir tidak mungkin ketika rupiah sudah tembus level psikologis 17.000 dan 18.000 maka dia akan kembali lagi ke level 15.000,” kata Bhima kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).

Bhima menyebut tekanan rupiah dipengaruhi sentimen negatif investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk DHE SDA dan rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

“Bahkan kebijakan-kebijakan seperti DHE ditahan itu juga akan memicu peralihan, dan ini sudah terlihat banyak yang sedang berjaga-jaga dengan menjual rupiah dan masuk ke deposito valas, masuk ke deposito dolar Amerika Serikat,” terang Bhima.

“Artinya permintaan dolar baik dari sisi pelaku usaha maupun rumah tangga itu meningkat. Nah ini jadi tidak bisa diselesaikan dengan DHE wajib masuk kemudian badan ekspor nasional atau DSI. Masalahnya bukan di situ,” ujarnya lagi.

“Jadi tidak mungkin target berubah rupiah bisa kembali lagi ke 15.000 terhadap dolar gitu ya atau dolarnya kembali ke Rp 15.000,” tandasnya.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi juga menilai target tersebut sulit direalisasikan di tengah kondisi ekonomi global dan domestik saat ini.

“Ya itu angan-angan. Setiap wawancara kan selalu bilang ‘apakah bisa ke Rp 15.000?’, ‘Oh pasti bisa ke Rp 15.000’. Itu enteng untuk diucapkan,” ujar Ibrahim.
Ia menyoroti tingginya beban impor minyak dan tekanan terhadap APBN akibat pelemahan rupiah.

“Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini,” tutur Ibrahim.

Selain faktor global, keraguan investor asing terhadap kepastian regulasi di Indonesia juga dinilai ikut memberi tekanan pada rupiah.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.