MELIHAT INDONESIA, JEPARA – Warga Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara menyambut antusias tradisi Jembul Tulakan, Senin (20/5/2024). Ribuan warga sudah tumpah ruah memadati area depan panggung utama.
Tradisi Jembul atau sedekah bumi yang digelar turun temurun setahun sekali ini digelar setiap Senin pahing di bulan Zulkaidah.
Dari pantauan di lokasi prosesi budaya Jembul Tulakan, terlihat empat pasang jembul bergantian diarak menuju depan panggung kehormatan. Diiringi instrumen tabuhan gamelan dan lantunan gending dari waranggana.
Empat jembul utama berupa gunungan serutan bambu berhias kain perca warna-warni. Sementara pasangannya adalah ancak atau pikulan yang berisi panganan khas desa setempat.
Menuju depan panggung gerakan arak-arakan jembul dan ancak terkadang liar, tidak tentu arah. Terkesan, ada yang merasuki. Para pemikul tampak berusaha mengendalikan laju gunungan, mencegah agar tak mengenai penonton.
Hal ini juga yang jadi salah satu magnet animo masyarakat datang untuk menyaksikan. Bahkan, banyak pula yang menonton dari lantai atas bangunan-bangunan sekitar.
Petinggi Tulakan Budi Sutrisno menjelaskan, perayaan Jembul Tulakan tersebut merupakan sarana sedekah bumi.
Wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat terhadap wilayah dan masyarakat desa.
“Upacara ini bermula diadakan sebagai dukungan moril bagi Ratu Kalinyamat dalam mencari keadilan atas terbunuhnya sang suami, Sultan Hadlirin,” tuturnya.
Keempat pasang jembul yang diarak mewakili wilayah kamitua atau kepala dukuh. Jembul pertama dari Kamitua Krajan, ditandai adanya golek dipuncak jembul. Penggambaran seorang tokoh bernama Sayyid Utsman.
Diikuti jembul dari Kamitua Ngemplak dengan golek Mangun Joyo, jembul Winong terdapat golek barisan prajurit. Lalu jembul dari Kamitua Drojo dan Pejing dengan golek Mbah Leseh.
“Jembul-jembul itu bermakna menghadapnya ‘nayaka praja’ yang mengantarkan ‘hulu bekti’ kepada Ratu Kalinyamat,” ungkapya. (nad)