TNI Angkatan Darat angkat bicara terkait insiden yang viral di media sosial dalam ajang Mandiri Jogja Marathon 2026. Peristiwa tersebut melibatkan Komandan Korem 072/Pamungkas, Yuniar Dwi Hantono, yang terlihat berdebat dengan panitia setelah ajudannya diberhentikan saat perlombaan berlangsung.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Donny Pramono, menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi akibat kesalahpahaman di lapangan antara petugas pengawas lintasan dan ajudan Danrem 072/Pamungkas.
Menurut Donny, Brigjen Yuniar mengikuti lomba bersama istri, seorang anak, dan ajudannya. Keempatnya terdaftar secara resmi sebagai peserta dan telah menerima nomor identitas peserta atau BIB dari panitia penyelenggara.
Namun saat perlombaan berlangsung, nomor peserta milik ajudan diduga terlepas di tengah lintasan yang padat. Kondisi itu membuat petugas tidak dapat mengidentifikasi status kepesertaannya sehingga ajudan tersebut dihentikan saat sedang berlari.
Saat itu, ajudan diketahui turut mendokumentasikan aktivitas Brigjen Yuniar selama mengikuti maraton. Keputusan panitia menghentikan ajudan tersebut kemudian memicu protes dari Danrem yang menganggap ajudannya merupakan peserta resmi.
Video perdebatan antara Brigjen Yuniar dan petugas perlombaan kemudian beredar luas di media sosial dan memicu berbagai tanggapan dari publik. Sejumlah netizen menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap aturan kepesertaan dalam event lari, termasuk bagi pejabat maupun pendamping yang ikut berada di lintasan perlombaan.
Dalam diskusi yang berkembang di media sosial, beberapa warganet membandingkan kejadian tersebut dengan pengalaman sejumlah tokoh publik lain yang mengikuti event lari bersama ajudan atau tim pendamping.
Nama Ganjar Pranowo turut disebut sebagai contoh figur yang kerap mengikuti ajang lari dengan prosedur kepesertaan yang dinilai tertib, termasuk memastikan pendamping yang ikut berada di lintasan terdaftar sebagai peserta resmi dan memiliki BIB masing-masing.
Netizen menilai nomor peserta atau BIB bukan sekadar identitas, melainkan bagian penting dari sistem pengawasan, keamanan, dan validasi peserta selama perlombaan berlangsung. Karena itu, aturan terkait penggunaan BIB dianggap harus berlaku sama bagi seluruh peserta tanpa memandang latar belakang maupun jabatan.
Meski demikian, TNI AD menegaskan bahwa insiden di Jogja Marathon bukan terjadi karena adanya pelanggaran aturan secara sengaja, melainkan akibat nomor peserta milik ajudan yang diduga terlepas saat berada di lintasan. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan kesalahpahaman antara petugas dan peserta.
TNI AD menambahkan bahwa setelah kejadian tersebut, pihak penyelenggara, event organizer, dan Danrem 072/Pamungkas telah melakukan komunikasi serta klarifikasi secara langsung. Hasilnya, seluruh pihak sepakat bahwa insiden tersebut murni persoalan teknis yang terjadi di lapangan dan telah diselesaikan secara baik.
Donny juga menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara yang dinilai telah menjalankan tugas secara profesional dalam menjaga ketertiban serta menerapkan aturan perlombaan secara konsisten kepada seluruh peserta.
TNI AD berharap masyarakat dapat melihat peristiwa tersebut secara objektif dan tidak mengaitkannya dengan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta yang telah diklarifikasi. Menurutnya, kejadian itu semata-mata disebabkan oleh kendala teknis terkait identitas peserta selama lomba berlangsung.