Di tengah tantangan peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing nasional, Presiden Prabowo Subianto mengungkap kembali pesan mendiang Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, yang menurutnya masih sangat relevan hingga saat ini. Prabowo menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa jutaan orang pintar yang dapat menjadi penggerak kemajuan bangsa.
Berbicara di hadapan sekitar 150 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026), Prabowo mengatakan Indonesia tidak perlu pesimistis karena memiliki “bahan baku” sumber daya manusia yang melimpah.
“Saya ingat Profesor Habibie mengatakan, ‘oke kita enggak usah takut, 1 persen saja orang pintar di Indonesia’. Satu persen saja itu hampir 3 juta orang. Jadi kita sebetulnya bahan bakunya banyak sekali,” ujar Prabowo.
Ia menegaskan para ilmuwan dan peneliti harus terus dibina dan didukung. Menurutnya, pembangunan bangsa harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan rasional.
Prabowo juga menyinggung hasil PISA yang menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dari Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Menurutnya, fakta tersebut harus dijadikan dasar untuk melakukan perbaikan.
Di tengah pernyataan tersebut, sejumlah warganet dan pengamat menyoroti kesejahteraan guru yang dinilai belum sejalan dengan cita-cita mencetak SDM unggul. Mereka menilai guru merupakan ujung tombak pembentukan kualitas sumber daya manusia, sehingga peningkatan mutu pendidikan juga perlu diiringi dengan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
Dalam berbagai diskusi di media sosial, muncul pertanyaan mengapa masih ada guru, khususnya guru honorer, yang menerima penghasilan sekitar Rp200 ribu per bulan atau bahkan lebih rendah. Kondisi itu kerap dibandingkan dengan negara-negara maju yang memberikan penghargaan dan gaji lebih layak kepada profesi guru.
Perdebatan pun muncul, apakah target mencetak jutaan SDM unggul dapat tercapai jika persoalan kesejahteraan guru masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.