Rabu, Juli 29, 2026

In this Economy, Bos LPS Klaim Masyarakat Tidak Lagi Makan Tabungan, Apa Kata Gen-Z Bergaji Imut?

Di saat cari kerja susah, tantangan anak muda bekerja dengan gaji UMR, hingga PHK massal dimana-mana, Bos Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai kondisi simpanan masyarakat di perbankan menunjukkan tren yang positif.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan pertumbuhan simpanan terjadi di seluruh kelompok nominal, mulai dari tabungan di bawah Rp100 juta hingga simpanan di atas Rp5 miliar.

Menurut Anggito, kondisi tersebut mencerminkan perputaran dana di sektor perbankan masih berjalan baik dan turut mendukung aktivitas ekonomi, terutama di sektor riil.

Sebelumnya, LPS mencatat simpanan masyarakat di bawah Rp100 juta tumbuh 4,95 persen secara tahunan (year on year/yoy) hingga Mei 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 3,43 persen pada akhir Desember 2025.

Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank, Doddy Zulverdi, mengatakan data tersebut tidak menunjukkan adanya fenomena masyarakat menghabiskan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Jadi tadi dikatakan fenomena makan tabungan itu, kalau melihat angka-angka ini, tidak demikian karena kita melihat bahwa yang simpanan sampai dengan Rp100 juta ini masih tumbuh positif, bahkan pertumbuhannya lebih baik daripada posisi akhir 2025,” ujar Doddy.

LPS juga mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 13,47 persen (yoy) pada Mei 2026. Sementara itu, simpanan di atas Rp5 miliar masih mencatat pertumbuhan dua digit sebesar 21,45 persen, meski sedikit melambat dibandingkan akhir tahun sebelumnya.

Menurut Doddy, seluruh kelompok simpanan, mulai dari nominal kecil hingga terbesar, masih menunjukkan pertumbuhan positif, yang dinilai mencerminkan kondisi perbankan nasional tetap terjaga.

Sebagian kalangan menilai gambaran di lapangan belum sepenuhnya sejalan dengan klaim tersebut. Di tengah perlambatan ekonomi global, masyarakat masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari meningkatnya utang melalui layanan pinjaman daring, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor, penguatan nilai tukar dolar AS, hingga kenaikan harga sejumlah bahan pokok yang dipengaruhi kondisi geopolitik dan perang di berbagai kawasan.

Selain itu, kesempatan kerja juga dinilai masih belum merata. Tidak sedikit masyarakat yang mengaku kesulitan memperoleh pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan. 

Kondisi tersebut membuat sebagian pihak berpendapat bahwa pertumbuhan simpanan perbankan belum tentu mencerminkan situasi ekonomi seluruh lapisan masyarakat, karena kenaikan dana simpanan juga dapat dipengaruhi oleh kelompok masyarakat dengan kemampuan finansial yang lebih tinggi.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.