Pemerintah tampaknya tak hanya serius membangun program-program berskala raksasa, tetapi juga mulai membangun panggung komunikasinya sendiri. S
etelah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki MBG TV, kini program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) juga disebut akan menghadirkan Radio Merah Putih sebagai saluran informasi khusus.
Fenomena ini memunculkan perhatian karena anggaran negara tak hanya terserap untuk membiayai pelaksanaan program, pembangunan infrastruktur, hingga pembentukan kelembagaan baru, tetapi juga merambah ke penyediaan media khusus sebagai sarana sosialisasi.
Di tengah sorotan publik terhadap besarnya biaya berbagai program strategis, lahirnya televisi dan radio untuk masing-masing program dinilai sebagai langkah yang tidak biasa.
Pendukung kebijakan tersebut menilai media khusus diperlukan agar informasi resmi tidak simpang siur dan masyarakat dapat mengikuti perkembangan program secara langsung.
Namun di sisi lain, kritik mulai bermunculan. Sejumlah kalangan mempertanyakan apakah kanal-kanal tersebut benar-benar akan berfungsi sebagai media informasi publik atau justru lebih banyak menjadi etalase pencapaian pemerintah yang minim ruang bagi evaluasi dan kritik.
Pertanyaan itu mengemuka karena setiap program besar kini seolah memiliki “corong” komunikasinya sendiri. Jika tren ini terus berlanjut, publik pun bertanya-tanya apakah setiap program nasional nantinya juga akan dilengkapi media khusus sebagai bagian dari implementasinya.
Pada akhirnya, yang akan menjadi ukuran bukan sekadar hadirnya MBG TV atau Radio Merah Putih, melainkan kualitas informasi yang disampaikan.
Di tengah penggunaan anggaran negara yang tidak sedikit, masyarakat tentu berharap media tersebut mampu menghadirkan informasi yang utuh, transparan, dan berimbang, bukan sekadar memperlihatkan sisi keberhasilan tanpa ruang bagi kritik maupun perbaikan.