MELIHAT INDONESIA, BANYUMAS – Masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, kembali menghidupkan tradisi tahunan mereka yang dikenal sebagai Bedah Rumpon atau Marak.
Tradisi ini diadakan setiap musim kemarau dengan cara membendung sungai, bertujuan tidak hanya untuk menangkap ikan, tetapi juga untuk memperkuat kebersamaan dan gotong royong di antara warga.
Ratusan penduduk Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, termasuk orang tua, remaja, dan anak-anak, berbondong-bondong turun ke Kali Kawung untuk berpartisipasi dalam Bedah Rumpon.
Dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti seser, jala, dan bahkan tangan kosong, mereka berusaha menangkap ikan yang bersembunyi di antara batu-batu sungai.
Kegiatan ini selalu menarik banyak penonton, yang menambah semarak suasana. Ikan-ikan hasil tangkapan seperti ikan palung, melem, uceng lunjar, dan nyongo biasanya langsung dikonsumsi oleh warga setempat.
Marwondo, seorang warga yang pulang dari Jakarta, berbagi pengalamannya, “Saya datang dari Jakarta ke kampung halaman di Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, untuk menyaksikan Bedah Rumpon di Kali Kawung saat musim kemarau.”
Kegiatan mencari ikan dengan cara mengeringkan saluran air, dilakukan secara turun-temurun dari zaman dulu tanpa menggunakan alat atau obat.
Dalam kegiatan ini, kita melibatkan kerja sama dari masyarakat setempat, bersama-sama mengerjakan pengeringan sungai yang diparak.
Tujuan dari kegiatan ini adalah menangkap ikan tanpa merusak habitat dan lingkungan. Menghindari dan melarang penggunaan racun Tuba dan lainnya.
Harapannya, masyarakat bisa mendapatkan hasil ikan tanpa merusak lingkungan.
Bedah Rumpon telah menjadi kegiatan tahunan yang selalu dinantikan warga Desa Kracak. Selain menangkap ikan, tradisi ini juga menjadi simbol kerja sama dan gotong royong yang kuat di antara warga.
Saat musim kemarau, aliran sungai yang kecil dan dangkal dapat dialihkan dan dibendung menggunakan batu, jerami, atau karung berisi tanah. Setelah dibendung, ikan-ikan yang bersembunyi di antara batu-batu sungai menjadi lebih mudah ditangkap.
Kegiatan ini tidak hanya memastikan kelestarian tradisi, tetapi juga menjaga lingkungan tetap terjaga dengan baik, tanpa merusak habitat ikan. Warga berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (**)