Harapan besar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung membawa Jakarta menjadi kota global tidak hanya diucapkan saat menghadiri sesi pembukaan High Level Political Forum on Sustainable Development (HLPF) di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Namun juga coba direalisasikan dalam kepemimpinannya di Jakarta.
Persiapan dimulai dari berbagai bidang, diantaranya di ranah kebudayaan melalui pagelaran Jakarta World Folklore Festival (JWFF) 2025.
Di lain bidang, melalui Bank milik Pemprov DKI Jakarta, Bank Jakarta, yang bersiap melantai di bursa saham melalui Initial Public Offering (IPO). Rencana ini telah mendapat restu langsung dari Pramono Anung, yang optimistis saham Bank Jakarta akan diminati investor karena memiliki fundamental yang kuat.
Pramono menegaskan pentingnya profesionalisme dan pengelolaan BUMD yang sistematis, serta menjaga Key Performance Indicator (KPI) dan rekam jejak perusahaan. Ia berharap IPO ini menjadi awal pembenahan menyeluruh terhadap BUMD di Jakarta.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo, menyebut pihaknya sedang mematangkan kesiapan internal, termasuk memperkuat fundamental bisnis. Target IPO diperkirakan bisa terealisasi pada awal 2026, tergantung situasi pasar.
Melalui IPO ini, Bank Jakarta menargetkan perolehan dana Rp3 triliun untuk mendukung transformasi ke Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3, yakni kategori bank dengan modal inti Rp14 hingga Rp70 triliun.
Hal tersebut diupayakan oleh Pramono Anung demi mendorong Jakarta menuju kota global.
Pramono Anung sendiri yang menyaksikan penandatanganan Pakta Integritas dan Key Performance Indicator (KPI) oleh seluruh BUMD Jakarta di Balai Kota, Rabu (6/8/2025).
Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan BUMD.
Pramono mendorong agar BUMD Jakarta go public melalui Initial Public Offering (IPO), dimulai dari Bank Jakarta dan PAM Jaya, yang dalam waktu dekat akan melantai di bursa saham.
Ia menilai, respons publik terhadap IPO BUMD sangat positif dan bisa menjadi langkah awal penataan BUMD yang lebih modern dan kompetitif.
Pramono berharap penataan ini dapat membawa Jakarta sejajar dengan Top 50 Global Cities pada tahun 2030, melalui kerja kolosal dari seluruh elemen BUMD—dari komisaris hingga pegawai.