MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Kisah jatuhnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, terus bergulir. Dengan status pailit yang kini resmi melekat, pemerintah menghadapi tantangan berat untuk menyelamatkan perusahaan ini. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, secara terbuka mengaku tengah menghadapi tekanan besar dalam menyelesaikan permasalahan ini.
“Lagi mumet gue tuh, aduh. Lagi mumet juga gue soal Sritex nih,” ujar pria yang akrab disapa Noel ketika ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (19/12/2024). Meski demikian, ia enggan membeberkan secara rinci permasalahan yang dimaksud. “Ada deh, nanti lama-lama tahu ada (yang bikin pusing),” tambahnya singkat.
Sritex dan Dilema Pailit
Sritex sebelumnya dinyatakan pailit oleh Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan Nomor 1345 K/Pdt.Sus-Pailit/2024. Putusan tersebut sekaligus menguatkan keputusan Pengadilan Negeri Semarang yang membatalkan homologasi perusahaan. Kondisi ini membuat Grup Sritex harus melepas aset-asetnya untuk melunasi utang kepada para kreditur.
Meski demikian, pemerintah berupaya agar kepailitan Sritex tidak berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. “Hal teknis di Menteri (Menaker Yassierli) yang ngerti,” ujar Noel ketika ditanya apakah subsidi bunga sebesar 5 persen untuk revitalisasi mesin dapat menjadi solusi.
Harapan Kandas di Meja Kasasi
Sebelumnya, Presiden Direktur Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto, menyampaikan harapannya agar kasasi yang diajukan pihaknya dikabulkan. Dalam pernyataannya di Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (5/12/2024), Iwan berharap perusahaan bisa kembali melanjutkan usaha dengan mengikuti aturan homologasi.
“Sebelum akhir tahun memang kita harapkan adanya putusan dari Mahkamah Agung mengenai permohonan kasasi kami,” ungkap Iwan. Ia juga menegaskan bahwa Sritex berkomitmen menjaga operasional perusahaan agar tidak terjadi PHK karyawan. Namun, MA memutuskan menolak kasasi tersebut, sehingga status pailit tetap berlaku.
Tantangan Besar Menanti
Dengan status pailit yang final, masa depan Sritex kini berada di ujung tanduk. Pemerintah dihadapkan pada tugas berat untuk menyeimbangkan antara menyelamatkan perusahaan, melindungi karyawan, dan memulihkan sektor tekstil nasional.
Meski Immanuel Ebenezer mengaku pusing dengan permasalahan ini, komitmen untuk mencari solusi tetap menjadi prioritas. Keputusan dan langkah konkret pemerintah akan sangat menentukan nasib ribuan karyawan dan masa depan industri tekstil Indonesia. (**)