Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali menyoroti luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit disebut sebagai salah satu faktor yang memperparah bencana yang menewaskan lebih dari 700 orang tersebut.
Di balik industri besar ini, terdapat 12 konglomerat yang menguasai lahan sawit raksasa di berbagai wilayah Indonesia.
- Martua Sitorus
Pendiri Wilmar, mengelola 230.951 hektare sawit, dengan 152.000 hektare di Indonesia. Kini fokus pada KPN Corporation. - Anthoni Salim
Melalui Indofood Agri Resources, ia memiliki 288.649 hektare perkebunan, ditambah LSIP dan SIMP. - Sukanto Tanoto
Pemilik RGE dan Asian Agri, dengan total 100.000 hektare sawit di Sumut, Riau, dan Jambi. - Ciliandra Fangiono
CEO First Resources yang mengelola lebih dari 200.000 hektare kebun sawit di Riau dan Kalimantan. - Peter Sondakh
Lewat Rajawali Corpora, ia mengendalikan BWPT dengan lahan 87.000 hektare. - Theodore Rachmat
Triputra Agro Persada miliknya memiliki sekitar 160.000 hektare sawit. - Hashim Djojohadikusumo
Melalui Arsari Group, ia turut menjadi pemain besar di industri sawit nasional. - Putera Sampoerna
PT Sampoerna Agro mengelola 81.733 hektare perkebunan di Sumatra dan Kalimantan. - Bachtiar Karim
Pemilik Musim Mas yang mengelola lebih dari 120.000 hektare lahan sawit. - Keluarga Widjaja
Sinar Mas Group melalui Golden Agri Resources menjadi pengelola sawit terbesar dengan 536.000 hektare. - Susilo Wonowidjojo
Makin Group miliknya mengelola sekitar 140.000 hektare di Jambi dan Kalimantan. - Chairul Tanjung
CT Agro Indonesia menjadi kendaraan bisnisnya di sektor sawit, menjadikannya salah satu pemain penting.
Deretan nama ini menggambarkan besarnya penguasaan lahan oleh para konglomerat, sekaligus memunculkan kembali perdebatan soal deforestasi dan risiko bencana ekologis di masa depan.