Kamis, April 30, 2026

Panggung Sandiwara Anis, dan Lakon Nyata Ganjar

Indonesia. Sebuah nama negara yang selalu menggetarkan jiwa saat mendengarnya. Deskripsi tanpa batas untuk menggambarkannya. Tempat yang amat kusyukuri, dengan lahirnya seorang aku di dalamnya.

Tak bisa kubayangkan, andai aku lahir di belahan bumi lain. Tentu tak bakal bisa menikmati nasi kucing sambil ngopi ngalor ngidul. Tak bisa menikmati rebahan sambil membaca komentar netizen yang terkenal paling budiman. Dan bisa jadi, tak bisa beribadah ataupun berpendapat dengan nyaman.

Kata yang amat melekat pada Indonesia saat terlintas di benakku adalah keanekaragaman. Ya, seperti penggambaran negara ini pada sebuah lagu nasionalnya, “dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia”

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan di mana di setiap pulau tak hanya dihuni WNI, tapi terkadang juga WNA. WNA yang sudah begitu cinta dengan negeri yang luas dan kaya raya ini. Beragam pulau, budaya, suku, bahasa hingga agama.

Salah satu hal yang patut disyukuri di negeri ini adalah toleransi. Dengan keragaman yang ada, namun semua masih hidup damai berdampingan. Meski sesekali ternoda.

Kehidupan setiap warga negara sejak dalam kandungan hingga dia meninggalkan dunia ini sudah tertuang dalam peraturan negara ini. Salah satu hal yang crusial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah agama, negara ini sudah mengatur kebebasan setiap warganya untuk menganut agama yang diyakininya masing-masing.

Seperti yang sudah diajarkan di setiap jenjang pendidikan yang kutempuh, toleransi atas keaneragaman di negara ini harus digaungkan pada diri setiap warga Indonesia, seperti semboyan bangsa ini yang tertulis dalam lambang negara, “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Lingkungan hidupku selalu berdampingan dengan perbedaan. Layaknya seorang guru, aku ikut serta menggaungkan sikap toleransi di kalangan anak-anak kecil.

Mereka selalu bertanya-tanya, apa maksud dari toleransi terhadap perbedaan agama?, aku menjawabnya dengan bahasa yang mudah mereka pahami hingga masuk ke penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

“menghargai agama lain, bukan berarti kita ikut serta saat teman kita, yang beda agama beribadah. Menghargai ibadah teman, tanpa mengomentarinya, tanpa mengganggunya, tanpa mengejek karena cara beribadahnya berbeda dengan kita”, jelasku saat itu dengan penuh sarat agar dapat diterima baik oleh pemahaman mereka.

Tidak kusangka gejolak dalam toleransi beragama yang kujelaskan kepada anak-anak ini bertentangan dengan apa yang dilakukan Anis Baswedan baru-baru ini. Dia dengan terangnya memasuki rumah ibadah umat kristen dan memberikan sepatah-dua patah kata, sehelai kain kelengkapan umat kristen, yang mereka sebut dengan stola, bertengger di lehernya.

Dengan dalih menghargai perbedaan agama atau toleransi, yang dilakukan Anis justru menyiderai agamanya sendiri. Banyak cuitan media sosial yang dilayangkan untuknya, tak lain isinya menyindir Anis yang sudah menjadi pendeta. Banyak netizen berkomentar “apa agama yang dianut Gubernur DKI Jakarta itu?”, “mengapa dengan gampangnya dia memakai stola itu?”, “apakah benar Anis sudah murtad?”.

Seperti yang kuketahui mengenai sehelai kain yang dipanggil stola itu tidak bisa dipakai sembarang orang, bahkan yang memakai hanya pendeta. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menjelaskan dan sudah mengeluarkan fatwa pula tentang hukum pemakaian atribut umat lain adalah haram. Menghormati agama memang selalu dikoarkan dimana-mana, tapi jangan sampai kelewatan juga, wahai Pak Gubernur.

Lalu kalau sudah begini bagaimana anggapan anak kecil yang baru belajar tentang ajaran toleransi antar agama, bisa jadi mereka juga akan mencontoh apa yang dilakukan Anis ini, ikut mengenakan atribut-atribut agama lain dan saling mengakui kebenaran agama lain dengan mudahnya.

Padahal sejatinya beragama adalah tentang akal dan hati, kalau sudah seperti ini Anis tidak hanya menciderai agama yang dianutnya tapi juga menodai pemikiran warga terkhusus anak kecil yang baru kenal dengan sebuah rasa toleransi yang dikenalkan oleh guru dan orang tua mereka.

Kemudian kemudi pikiranku menuju ke satu titik terdekat, Anis ingin mencari dukungan dalam pencalonan dirinya menjadi presiden RI 2024, namun saking membabi butanya dia dengan posisi tertinggi di negara ini, dia melupakan arah angin yang tak bisa ia prediksi dengan mata telanjangnya, harusnya dia tanya kepada ahli barometer, ya seperti halnya di bidang agama harusnya dia dapat berguru kepada pemuka agama di Indonesia, agar tidak salah langkah dan mengundang sensasi seperti ini.

Tidak cukupkah dengan sensasi yang dibuatnya saat pemilihan gubernur 2017 lalu, dia yang dikenal dengan bapak politik identitas, membuat huru-hara dan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Mengingat bejatnya dia memperlakukan warga yang meninggal dalam posisi warga tersebut tidak menyumbangkan suara untuknya dalam pemilihan gubernur kala itu, dalam spanduk-spanduknya bertuliskan menolak untuk menyolatkan jenazah yang berpihak di kubu Ahok.

Bahkan yang sangat menyakiti hati masyarakat kala itu, saat ada jama’ah sholat jumat di masjid yang kebetulan tidak berada di kubu Anis kala itu, diusir paksa oleh para jama’ah yang berada di kubu Anis. Sungguh miris, mengingat hal itu masyarakat DKI Jakarta yang menjadi korban atas perpecahan yang dibuat oleh Anis ini.

Kini dengan gamblangnya dia mengulangi hal yang sama, sungguh tidak ada habisnya dengan pola pikir Gubernur satu ini yang selalu “playing victim”, lempar batu sembunyi tangan atas perbuatannya di masa lalu.

Bagaikan tanaman ibuku di rumah setelah siang hari terusik dengan sengatan sinar matahari, sorenya akan ada air yang menyegarkannya seperti Ganjar Pranowo yang dihampiri puluhan pendeta dari Maluku. Mereka berbondong-bondong dari Maluku mengunjungi Ganjar di Semarang dengan tujuan ingin belajar dengan beliau tentang bagaimana toleransi beragama yang diterapkan di Jawa Tengah.

Sejauh mata memandang interaksi mereka sangat meneduhkan, lagi menghangatkan hati semua orang yang melihatnya. seperti yang kuketahui Ganjar adalah seorang muslim yang taat pada agama dan kepercayaan yang beliau anut, interaksinya dengan para ulama’ terlihat dimana-mana, begitu pula dengan sikapnya terhadap umat yang berbeda kepercayaan dengannya, santun dan sangat menghormati ajaran mereka masing-masing.

75 pendeta yang hadir di kediaman Ganjar sore itu menilai Tugiman satu ini adalah sosok pemimpin yang memiliki jiwa toleransi tinggi, dan tidak membeda-bedakan warganya yang berbeda keyakinan, hal tersebut dilontarkan dari salah satu pendeta dengan melihat bukti 10 kota di Jawa Tengah yang memiliki rasa toleransi tinggi antar umat beragama.

Aksi pendeta-pendeta dari Maluku ini tidak berhenti dengan berkunjung ke rumah suhunya Jawa Tengah saja, tetapi mereka juga mengunjungi salah satu pondok pesantren di Salatiga. Mereka akan belajar bagaimana pembinaan santri di sana, agar ke depannya dalam kapasitas mereka sebagai pemuka agama, tidak ada kesalahpahaman tentang agama di kemudian hari.

Tentu saja Ganjar sangat menanggapi positif penilaian para pendeta ini terkait dirinya dan provinsi yang beliau pimpin. Beliau juga tidak mau kalah memuji para pendeta ini sebagai wujud apresiasi yang tinggi bagi para pendeta yang bersemangat menjunjung tinggi nilai toleransi dalam rangka menjaga NKRI dan merawat nilai-nilai Pancasila.

Dari dua tokoh penting di atas aku tahu dan paham Indonesia adalah negara yang indah dengan keaneragamannya, negara yang dilimpahi anugerah besar oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu mengingatkan setiap warga Indonesia akan mensyukuri karunia Tuhan ini dengan menjaga keutuhan NKRI dengan mengamalkan Pancasila, selalu berhati-hati dalam bertindak karena kita tidak tahu tindakan kita dapat menciptakan keharmonisan atau justru membuat luka untuk Indonesia.

Nikmatul Sugiyarto

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.