Sabtu, Juni 27, 2026

Ini Adab Bersenggama Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki

MELIHAT INDONESIA – Hubungan intim atau senggama dalam Islam harus dilakukan dengan adab karena ini merupakan aspek penting dari kehidupan berumah tangga yang mencerminkan prinsip-prinsip agama dan nilai-nilai moral.

Adab dalam hubungan intim tidak hanya memastikan bahwa interaksi tersebut berlangsung dengan penuh keharmonisan dan saling menghormati, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari ibadah yang mendatangkan berkah.

Dengan niat yang tulus dan doa sebelum berhubungan, pasangan dapat memastikan bahwa hubungan tersebut berada dalam lindungan Allah dan memenuhi hak masing-masing dengan cara yang benar.

Selain itu, adab dalam senggama menjaga agar hubungan intim tetap bersih dan suci, baik secara fisik maupun spiritual.

Sementara menukil BincangSyariah.Com, ada empat adab bersenggama suami istri menurut seorang ulama besar, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

Sejatinya, Islam tidak hanya mengajarkan kita tentang hal-hal besar seperti hukum, tapi juga hal-hal kecil seperti doa sehari-hari. Bahkan, cara kita berhubungan dengan pasangan pun ada aturannya dalam Islam.

Pertama, membaca basmalah. Dalil secara umum dalam membaca basmalah adalah hadis Nabi yang bunyinya:

كُلُّ كَلاَمٍ أَوْ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَرُ: أَوْ قَالَ أَقْطَعُ.

“Setiap ucapan atau perkara yang penting tidak diawali dengan mengucapkan bismillah, maka terputus berkahnya.” H.R. Ahmad.

Bersenggama adalah perihal yang penting, karena menyangkut memproduksi generasi (anak). Berdasarkan hadis di atas maka seharusnya ketika bersenggama diawali dengan ‘basmalah’.

Sedangkan dalil secara khusus dalam membaca basmalah ketika akan bersenggama adalah hadis Nabi yang bunyinya:

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ, اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ, وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا, فَإِنَّهُ إِنْ يُقْدَرُ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِيْ ذَلِكَ, لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ أَبَدًا. أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ.

“Seandainya salah satu diantara kalian ingin bersenggama maka bacalah bismillah, Ya Allah jauhkanlah kami dari Setan dan jauhkanlah apa-apa yang Engkau berikan kepada kami dari Setan, sesungguhnya jika engkau dikarunia anak dan membaca basmalah maka anak tersebut tidak akan diganggu oleh Syetan selamanya.” (meriwayatkan kepada hadis ini lima perawi).

Kedua, menutup aurat. Sebagian orang memiliki pandangan bahwa jika bersenggama tidak telanjang rasanya kurang puas dan mereka berkeyakinan hal itu boleh. Menurut Abuya Sayyid Muhammad memang boleh, tetapi hal ini perihal adab. Jadi, kurang etis jika bersenggama sambal telanjang bebas, harus ditutup auratnya. Sebagaimana Nabi bersabda:

وَتَرْوِيْ السَّيِّدَةُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ مَا رَآهَا مِنِّيْ وَلاَ رَأَيْتُهَا مِنْهُ أَيْ الْعَوْرَةَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيْ.

“Sayyidah Aisyah meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad saw. Siti Aisyah berkata: Rasulullah tidak melihat auratku dan aku tidak melihat Rasulullah.” H.R. Bukhari.

Ketiga, melakukan muqaddimah jima’ (membuat istri terangsang). Dalam hal ini banyak sekali cara untuk merangsang istri. Mulai dari mengusap rambutnya, mencium, dan lain sebagainya. Nabi bersabda:

لاَ يَقَعَنَّ أَحَدٌ عَلَى امْرَأَتِهِ كَمَا تَقَعُ الْبَهِيْمَةُ, وَلْيَكُنْ بَيْنَهُمَا رَسُوْلٌ. قِيْلَ: وَمَا الرَّسُوْلُ؟ قَالَ: الْقُبْلَةُ وَالْكَلَامُ. رَوَاهُ الدَّيْلَمِيْ.

“Sungguh tak terjadi pada istri seseorang sebagaimana binatang, maka hendaklah diantara kalian (suami-istri) ada rasul. Lalu, ditanya Nabi apakah yang dimaksud rasul? Nabi menjawab mencium dan mengajak ngobrol istrinya.” H.R. Ad-Dailami.

Keempat, tidak membicarakan kepada orang lain tentang apa yang terjadi saat bersenggama. Bahkan, Abuya mengatakan “Wajib hukumnya menjaga rahasia perihal ini (bersenggama), jika diceritakan tidak layak dan tidak pantas”. Hal ini ditegaskan oleh Nabi:

إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ؛ الرَّجُلَ يُفْضِيْ إِلَى امْرَأَتِهِ, وَتُفْضِيْ إِلَيْهِ, ثُمَّ يَنْشُرُ أَحَدُهُمَا سِرَّ صَاحِبِهِ. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَغَيْرُهُمَا.

“Sesungguhnya termasuk keburukan manusia di sisi Allah SWT kelak hari kiamat adalah antara laki-laki dan perempuan saling memberitahukan kabar pribadinya kemudian salah satunya ada yang menyebarkan kepada orang lain.” (mengeluarkan kepada hadis ini adalah Imam Muslim, Abu Daud, dan selain keduanya).

Itulah beberapa adab bersenggama. Saya rasa ini perlu diperhatikan, karena pernikahan merupakan ikatan yang sangat sakral. Dengan melakukan adab di atas kita berharap memperoleh buah hati yang sholeh dan sholehah. Penjelasan di atas dikutip dari kitab Adab al-Islam fi Nidzam al-Usroh, halaman 21-23.

Demikian penjelasan tentang adab bersenggama menurut Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.