Rabu, Mei 20, 2026

Bumi Pernah Memiliki Cincin Seperti Saturnus, Menurut Studi Terbaru

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Sebuah penelitian baru mengungkap bahwa Bumi pernah memiliki cincin mirip dengan yang ada di Planet Saturnus sekitar 466 juta tahun yang lalu. Cincin ini diduga terbentuk akibat proses penangkapan dan penghancuran asteroid yang melintas.

Para peneliti menyatakan bahwa puing-puing dari cincin tersebut mungkin menemani Bumi selama puluhan juta tahun dan berkontribusi pada periode pendinginan global, yang termasuk dalam salah satu fase terdingin di Bumi dalam 500 juta tahun terakhir.

Studi ini dilakukan dengan menganalisis 21 situs kawah di seluruh dunia yang diyakini terbentuk akibat puing-puing dari asteroid besar yang jatuh antara 488 juta hingga 443 juta tahun lalu, pada masa Ordovisium, saat dampak asteroid meningkat secara dramatis.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Andy Tomkins, profesor ilmu planet di Monash University, menggunakan model komputer untuk memetakan pergerakan lempeng tektonik Bumi dan lokasi kawah yang terbentuk lebih dari 400 juta tahun yang lalu. Hasilnya menunjukkan bahwa semua kawah tersebut berada dalam jarak 30 derajat dari khatulistiwa, yang mengindikasikan bahwa mereka terkait dengan cincin puing-puing yang mengorbit Bumi.

Tomkins menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, asteroid dapat menghantam Bumi di mana saja, namun keberadaan 21 kawah ini di sekitar khatulistiwa menunjukkan adanya keterkaitan. “Sangat tidak mungkin bahwa semua kawah dari periode ini terbentuk di dekat khatulistiwa tanpa hubungan satu sama lain,” ungkapnya.

Para peneliti berpendapat bahwa lokasi kawah yang konsisten dengan cincin puing-puing mengorbit Bumi menunjukkan bahwa cincin tersebut mungkin terbentuk di atas ekuator, mirip dengan cincin yang mengelilingi Saturnus dan planet gas raksasa lainnya. Peluang tumbukan acak yang menghasilkan pola ini sangat kecil, yaitu sekitar 1 banding 25 juta.

Dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters, para peneliti memperkirakan bahwa asteroid yang menyebabkan cincin tersebut memiliki lebar sekitar 12,5 kilometer jika terdiri dari tumpukan puing-puing. Tomkins menambahkan bahwa ketika asteroid hancur, pecahan-pecahannya “berdesak-desakan” dan mengendap menjadi cincin di sekitar Bumi.

Selama jutaan tahun, material dari cincin ini perlahan-lahan jatuh ke Bumi, menciptakan lonjakan dampak meteorit yang tercatat dalam geologi. Tim menemukan bahwa lapisan sedimen dari periode ini mengandung puing-puing meteorit yang melimpah, dan beberapa di antaranya terpapar radiasi luar angkasa yang jauh lebih sedikit dibandingkan meteorit yang jatuh saat ini.

Penelitian ini juga menunjukkan tanda-tanda tsunami yang terjadi selama periode Ordovisium, yang dapat dijelaskan oleh skenario penangkapan dan penghancuran asteroid besar.

Jika Bumi memang memiliki cincin seperti Saturnus, dampaknya terhadap iklim bisa sangat signifikan. Cincin ini berpotensi membayangi sebagian permukaan planet, berkontribusi pada pendinginan global. Namun, para peneliti menekankan bahwa aspek ini masih perlu diteliti lebih lanjut. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.