Jumat, April 24, 2026

Pakar Sebut Warga Miskin Pesisir Terancam Bungkuk karena Hal Ini

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Pakar Pesisir dari Soegijapranata Catholic University, Hotmauli Sidabalok menyebut warga miskin yang tinggal di kawasan pesisir terancam bungkuk.

Kelengkungan tulang belakang tersebut bisa terjadi bagi orang yang terus menerus menjalankan aktivitas dengan cara menunduk–yang secara tidak langsung dipengaruhi dampak penurunan muka tanah.

Dia mengatakan, kawasan pesisir seperti di Kota Semarang, terancam tenggelam. Penurunan permukaan tanah terjadi secara sigifikan sehingga membuat air laut kerap masuk permukiman penduduk.

Berdasarkan kajian amblesan tanah yang dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM, kecepatan penurunan muka tanah di Semarang bagian utara berkisar 7–9 sentimeter per tahun.

Untuk menyikapi dampak masalah tersebut, pemerintah rutin meninggikan badan jalan di kawasan pesisir. Masyarakat di sekitarnya pun ikut menyesuaikan dengan meninggikan rumah.

“Meninggikan rumah ini merupakan respon supaya rumah tidak tenggelam,” jelas Uli, Rabu (29/1/2025).

Di pesisir Kampung Tambaklorok Semarang, contohnya, warga meninggikan rumah setiap 3–5 tahun sekali. Bahkan di lokasi lain ada yang perlu meninggikan rumah setahun sekali.

Namun, kata Uli, harus diakui tidak semua orang mempunyai cukup dana untuk meninggikan rumah. Atau ada orang yang hanya mampu meninggikan lantai rumah tanpa meninggikan konstruksi bangunan rumah.

Jika bangunan tak ditinggikan, artinya semakin lama, jarak antara lantai dan atap kian mepet. Sehingga, pada saat yang bersamaan akan ada warga yang terpaksa beraktivitas di dalam rumah secara membungkuk.

“Generasi ke depan akan bungkuk kalau yang ditinggikan cuma lantai, rumahnya tidak,” ujarnya.

Uli menambahkan, ada beberapa faktor yang mempercepat penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa Tengah, termasuk di Semarang.

Antara lain karena pembebanan bangunan berlebih di area dengan kondisi tanah aluvial muda atau jenis tanah yang terbentuk dari endapan.

Diketahui, pembangunan di pesisir Semarang yang tanahnya aluvial terjadi begitu massif sejak tahun 90-an hingga sekarang; mulai dari pembangunan pelabuhan hingga kawasan industri.

Sisi lain, penurunan muka tanah disebabkan oleh ekstraksi air bawah tanah secara berlebihan. Sayangnya, menurut informasi, industri di kawasan pelabuhan mayoritas masih memanfaatkan sumur artesis. (*)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.