MELIHAT INDONESIA, SURABAYA – Bulan Syawal sudah berjalan, dan satu pertanyaan mulai menghantui banyak orang: “Sudah ganti puasa Ramadhan belum?” Bagi mereka yang memiliki utang puasa karena haid, sakit, atau musafir, waktu terus berjalan menuju Ramadhan berikutnya. Yang ketinggalan bisa gawat: dosa menumpuk, kewajiban belum lunas.
Tapi sebelum terburu panik, satu hal yang tak boleh salah: niat. Iya, niat bukan sekadar formalitas, tapi jadi kunci sahnya ibadah puasa, termasuk puasa qadha alias puasa pengganti Ramadhan.
Niat puasa qadha harus dipahami dengan benar, terutama karena beda dengan puasa sunah atau puasa lainnya. Puasa qadha ini wajib, jadi niatnya pun harus jelas dan terucap sejak malam hari sebelum subuh.
Kalau kamu termasuk yang masih menunda qadha, jangan tunda lagi. Hafalkan niat ini baik-baik:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk mengganti kewajiban puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.
Perhatikan, niat ini bukan bisa diucapkan kapan saja seperti puasa sunnah. Kalau lewat dari subuh, dan kamu belum niat sejak malam, puasamu tidak sah sebagai qadha. Bisa-bisa harus ulang besoknya.
Tak sedikit yang menyepelekan, padahal konsekuensinya besar. Bayangkan, satu hari puasa wajib yang tidak terganti bisa berdampak pada hisab di akhirat kelak. Dan kalau sudah melewati Ramadhan berikutnya tanpa qadha, ada kewajiban fidyah yang menunggu.
Buat perempuan yang rutin haid tiap bulan, mengganti puasa memang jadi keharusan tahunan. Tapi bagi banyak orang, justru karena sifatnya “utang,” qadha sering tertunda-tunda, bahkan dilupakan sampai menjelang Ramadhan berikutnya.
Dalam beberapa mazhab, termasuk Mazhab Syafi’i yang dianut mayoritas Muslim Indonesia, puasa qadha bisa dilakukan kapan saja di luar Ramadhan, asalkan tidak bertepatan dengan hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa seperti Idul Fitri atau Idul Adha.
Namun tetap saja, makin cepat dilunasi, makin tenang hati. Jangan menunggu detik terakhir, apalagi sampai lupa niat, lalu baru sadar saat adzan subuh sudah berkumandang.
Kalau kamu sering kebingungan kapan harus niat atau lupa lafalnya, catat atau tempelkan di tempat mudah dilihat. Bisa juga set alarm dengan pengingat, “Niat qadha puasa malam ini!”
Penting juga untuk membedakan antara niat puasa qadha dan puasa sunnah seperti Senin-Kamis atau puasa Syawal. Kalau salah niat, puasanya bisa jadi tidak memenuhi kewajiban qadha, dan tetap harus diulang.
Akhirnya, ibadah bukan hanya soal dilakukan, tapi bagaimana kamu memulainya. Dan puasa, sebagaimana ibadah lainnya, selalu dimulai dari niat yang tulus, sadar, dan sesuai tuntunan syariat.
Jangan tunggu mepet. Jangan cuma ikut-ikutan sahur tapi lupa niat qadha. Hafalkan, amalkan, dan lunasi utang puasamu sebelum terlambat. (**)