MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Usai menempuh 10 jam perjalanan dari Korea Selatan, Megawati Hangestri Pertiwi akhirnya menginjakkan kaki kembali di Indonesia. Tapi kepulangan sang Megatron bukan sekadar akhir dari musim liga—ini adalah pulang dari medan tempur.
Megawati tak hanya pulang dengan koper dan kenangan, tapi juga dengan luka di lutut dan tubuh yang kelelahan setelah bertarung selama sembilan hari dalam lima laga final yang menguras segalanya. Total 23 set dilibasnya bersama Red Sparks di Liga Voli Korea sebelum akhirnya menutup musim sebagai runner-up.
Langkahnya perlahan saat tiba di Bandara Juanda, Sidoarjo, tapi senyumnya tetap mengembang. Kepada wartawan, Megawati mengaku perjalanannya melelahkan, namun rasa bahagia karena bisa kembali ke Tanah Air lebih besar daripada rasa nyeri yang masih ia rasakan.
“Iya benar, 10 jam lama juga, lama di bandara,” ucapnya sambil tertawa kecil, menahan rasa lelah yang belum reda.
Satu hal yang langsung ia cari bukan tempat tidur atau dokter, melainkan kehangatan dari semangkuk Soto Betawi. Baginya, rasa rindunya pada Indonesia tak hanya soal orang-orang tercinta, tapi juga rasa autentik makanan yang selama dua tahun terakhir jarang ia nikmati.
“Tadi sudah sempat makan soto betawi, siomay, pentol, cilok sini juga,” katanya dengan ekspresi puas. Bagi Megawati, ini bukan hanya makanan, tapi simbol bahwa dia sudah pulang.
Megawati pulang dengan status sebagai ikon yang membuat Liga Voli Korea Selatan kembali berdenyut. Di Red Sparks, ia bukan sekadar pemain asing, tapi bintang yang menghidupkan klub dan membawa warna berbeda di tengah kerasnya kompetisi.
Meski hanya menjadi runner-up, pencapaian Megawati bersama Red Sparks selama dua musim membuat banyak mata dunia kini mengenal Indonesia lewat voli. Ia menjelma menjadi duta yang tak memakai jas diplomasi, tapi jersey bernomor punggung.
Kini kontraknya dengan Red Sparks telah berakhir. Ia memilih pulang untuk beristirahat dan kembali ke pelukan keluarga. Tapi publik tahu, ini bukan akhir dari Megatron. Ini hanyalah jeda. Ia akan kembali, dengan semangat yang lebih besar, dan mungkin dengan seragam yang berbeda.
Saat ditanya apa yang paling ia rindukan selain keluarga, jawabannya sederhana namun penuh makna: makanan kampung halaman. Sebuah penegasan bahwa di balik fisik kuatnya, Megawati tetap manusia biasa yang rindu rumah.
Megawati tahu arti dari kata “berjuang.” Ia melakukannya di luar negeri, di lapangan, di tiap servis dan spike. Kini saatnya ia melawan rasa sakit dan kelelahan di rumah sendiri.
Dan di balik semangkuk Soto Betawi yang ia santap, tersimpan kelegaan bahwa perjuangan belum usai—ia hanya berpindah arena. (**)