Gerakan “Stop Tot Tot Wuk Wuk” tengah viral di media sosial sebagai bentuk protes masyarakat terhadap penggunaan sirine dan lampu strobo yang dinilai arogan, terutama oleh kendaraan pengawal pejabat maupun mobil pribadi yang tak memiliki izin resmi.
Istilah “Tot Tot Wuk Wuk” merujuk pada suara sirine dan strobo yang kerap terdengar saat rombongan kendaraan meminta prioritas jalan.
Fenomena ini muncul setelah banyak warga mengunggah keluhannya tentang perilaku pengemudi yang menggunakan sirine secara berlebihan sehingga mengganggu kenyamanan dan bahkan membahayakan pengguna jalan lain.
Bentuk aksi protes pun beragam, mulai dari pemasangan stiker bertuliskan “Hidupmu dari Pajak Kami, Stop Tot Tot Wuk Wuk di Jalan” pada kendaraan, hingga ramai-ramai menggaungkan tagar #StopTotTotWukWuk di berbagai platform media sosial.
“Ini bukan hanya soal kebisingan, tapi juga tentang rasa keadilan. Jalan raya milik semua orang, bukan hanya untuk mereka yang merasa berkuasa,” tulis salah satu warganet dalam unggahannya yang viral.
Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan dukungannya terhadap gerakan tersebut dan mengaku dirinya jarang menggunakan sirine dalam aktivitasnya.
“Saya hampir nggak pernah tat tot tat tot. Saya lebih memilih tertib di jalan, sama seperti pengguna jalan lainnya,” kata Pramono dalam keterangannya, Rabu (17/9/2025).
Gerakan ini juga memunculkan diskusi soal regulasi. Berdasarkan Undang-Undang Lalu Lintas, penggunaan sirine dan lampu strobo seharusnya hanya diperuntukkan bagi kendaraan darurat, seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan kendaraan penegak hukum saat menjalankan tugas tertentu.
Hingga kini, tren Stop Tot Tot Wuk Wuk terus trending di media sosial, menunjukkan besarnya dukungan masyarakat agar praktik penggunaan sirine yang arogan segera dihentikan dan ditertibkan oleh pihak berwenang.