Kekejaman Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) di Kota El-Fasher, Sudan Barat, menuai kecaman dunia setelah laporan menunjukkan terjadinya pembantaian massal terhadap warga sipil tak bersenjata, termasuk di fasilitas kesehatan.
Menurut Jaringan Dokter Sudan (Sudan Doctors Network), lebih dari 1.500 warga tewas hanya dalam tiga hari kekerasan di El-Fasher. Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB untuk Sudan sebelumnya juga menyimpulkan bahwa baik RSF maupun Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk eksekusi, kekerasan seksual, kelaparan sengaja, serta serangan terhadap rumah sakit.
Salah satu insiden paling brutal terjadi di Rumah Sakit Bersalin Saudi di El-Fasher, tempat 460 pasien dan kerabatnya dibunuh oleh pejuang RSF. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutuk keras tindakan itu, yang juga disertai penculikan enam staf medis.
Bukti paling mengerikan datang dari video yang memperlihatkan Brigadir Jenderal Al-Fateh Abdullah Idris alias Abu Lulu, seorang perwira senior RSF, menembak tahanan tak bersenjata dari jarak dekat. Dalam rekaman lain, ia dengan bangga mengaku telah membunuh 900 warga El-Fasher dan berjanji meningkatkan jumlahnya menjadi 1.000.
Abu Lulu juga dikaitkan dengan sejumlah kekejaman sejak 2024, termasuk pembantaian di kilang Jili, eksekusi tahanan di Um Sumayma, dan serangan terhadap warga sipil di Kordofan Barat. Dalam salah satu audio yang beredar, suara yang diyakini miliknya berkata, “Aku akan terus membunuh hingga jumlah korban mencapai 2.000 orang.”
Setelah tekanan internasional meningkat, RSF pada 30 Oktober 2025 mengumumkan penangkapan Abu Lulu. Video penangkapannya menunjukkan ia diborgol dan dibawa ke Penjara Shala di Al-Fasher. RSF menyatakan penahanan itu sebagai bentuk “komitmen terhadap hukum dan martabat manusia,” serta menyebut penyelidikan hukum tengah berjalan.
“Kami berkomitmen penuh terhadap penegakan hukum dan tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum,” bunyi pernyataan RSF.
Namun, banyak pihak meragukan komitmen tersebut, mengingat janji serupa pasca pembantaian El-Geneina pada 2023 tak pernah ditepati.
PBB mengecam keras kegagalan komunitas internasional menghentikan kekejaman di Sudan. Dalam sidang Dewan Keamanan, Tom Fletcher, Kepala Bantuan Darurat PBB, mengatakan, “Wanita dan anak perempuan diperkosa, orang-orang dimutilasi dan dibunuh, dengan impunitas total.”
Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Afrika, Martha Pobee, menilai kejatuhan El-Fasher ke tangan RSF sebagai “pergeseran signifikan dalam dinamika keamanan” yang berisiko memperluas kekerasan ke wilayah Kordofan, Blue Nile, Darfur Barat, dan Khartoum.
“Risiko kekejaman massal, kekerasan etnis, dan pelanggaran hukum humaniter internasional tetap sangat tinggi,” ujarnya.
Sudan kini menghadapi bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarahnya, di mana ribuan warga masih terjebak tanpa jalur aman untuk melarikan diri dari kekerasan yang kian membara.