Kamis, Juni 11, 2026

Sister Hong Lombok Akhirnya Bicara: Bongkar Fakta Hidup Kelam, Fitnah, hingga Ancaman Pembunuhan

Viralnya sosok ‘Sister Hong Lombok’ akhirnya dijawab langsung oleh Deni Apriadi Rahman atau Dea Lipa, seorang MUA asal Lombok yang identitas aslinya terbongkar di media sosial. Dalam konferensi pers di Mataram, Sabtu (15/11/2025), Deni menegaskan bahwa berbagai tuduhan yang beredar, mulai dari penistaan agama hingga isu orientasi seksual, adalah fitnah.

“Banyak narasi yang disebarkan tidak sesuai dengan kenyataan, bahkan menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak saya lakukan,” ujarnya. Ia membantah pernah mengenakan mukena dan berada di shaf perempuan saat salat, serta membantah isu bahwa dirinya kaum sodom dan pernah bertunangan dengan lelaki. Deni juga menolak tuduhan mengidap HIV.

“Tuduhan bahwa saya mengidap HIV pun merupakan fitnah. Saya baru menjalani tes HIV… hasilnya negatif,” tegasnya.

Deni mengakui dirinya memang pernah mengenakan hijab sebagai ekspresi diri, namun menolak anggapan bahwa tujuannya untuk menipu. Ia menyebut hijab sebagai simbol keindahan dan keanggunan.

“Saya menyadari bahwa saya memang pernah menggunakan jilbab… Bagi saya, jilbab itu simbol kecantikan,” katanya. Kini ia memastikan tidak akan memakainya lagi. Keluarganya melalui sang bibi, Maya, juga menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi.

Setelah viral, Deni mengaku hidupnya berubah menjadi tekanan berat. Ia kehilangan klien dan penghasilan sebagai MUA, begitu pula asisten dan fotografer yang bekerja bersamanya.

“Pembatalan ini menimbulkan kerugian bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi asisten dan rekan kerja saya,” jelasnya. Ia bahkan menerima hujatan, teror, hingga ancaman pembunuhan.

“Saya menerima ribuan komentar berisi cacian… Saya bahkan mendapat teror seperti ancaman pembunuhan.” Kondisi itu membuatnya dua kali hampir mengakhiri hidup.

Deni juga mengungkap masa kecil yang berat. Ia tumbuh dalam keluarga broken home karena kedua orang tuanya bekerja sebagai PMI. Hidup bersama nenek, ia harus menghadapi gangguan pendengaran sejak kecil yang memburuk setelah kecelakaan usia 10 tahun. Perundungan yang ia alami di sekolah serta wafatnya sang nenek membuatnya putus sekolah hanya sampai SD. Setelah itu, ia belajar bertahan hidup sendiri dan menemukan kemampuan sebagai penata rias melalui video YouTube.

“Melalui pekerjaan (MUA) inilah saya merasa bisa berdiri di atas kaki saya sendiri… dan perlahan memperoleh rasa percaya diri,” ujarnya.

Meski diterpa fitnah dan kehilangan mata pencaharian, Deni berharap keterangannya dapat membersihkan namanya dan meredakan kesalahpahaman yang terlanjur menyebar luas.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.