Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menilai kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga sangat besar di tengah dinamika global saat ini.
SBY menyebut meski perang besar masih bisa dicegah, ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin hari semakin sempit.
Ia mengaku terus mengikuti perkembangan dunia selama tiga tahun terakhir, terutama konflik dan ketegangan geopolitik yang terus meningkat.
Sebagai tokoh yang lama mendalami isu geopolitik, perdamaian, dan keamanan internasional, SBY mengaku cemas dunia akan menghadapi prahara besar.
Menurut SBY, situasi global saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua.
Ia menyoroti munculnya pemimpin kuat yang agresif, terbentuknya blok-blok negara yang saling berhadapan, serta pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran.
SBY menilai sejarah menunjukkan tanda-tanda perang besar sering diabaikan karena kurangnya kesadaran dan langkah nyata untuk mencegahnya.
Ia berharap dan berdoa agar perang dunia yang disertai penggunaan senjata nuklir tidak benar-benar terjadi.
SBY mengingatkan bahwa jika perang dunia dan perang nuklir pecah, kehancuran global hampir tidak bisa dihindari.
Berdasarkan sejumlah kajian, ia menyebut lebih dari 5 miliar manusia bisa menjadi korban dan peradaban manusia terancam punah.
Namun, SBY menegaskan doa saja tidak cukup tanpa upaya nyata dari manusia dan bangsa-bangsa di dunia.
Ia mengingatkan bahwa kehancuran dunia bukan hanya disebabkan oleh orang jahat, tetapi juga karena orang baik yang memilih diam.
SBY menilai masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi jika ada kemauan bersama.
Ia juga mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil inisiatif menggelar sidang darurat guna membahas langkah konkret pencegahan krisis global.
Menurut SBY, meski kewenangan PBB terbatas, upaya tersebut penting agar dunia tidak dicatat sejarah sebagai pihak yang melakukan pembiaran.