Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut di tengah sentimen global, terutama lonjakan harga minyak dunia dan kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve.
Pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026), rupiah melemah 0,12 persen ke level Rp 17.346 per dolar AS.
Di saat yang sama, harga minyak dunia bergerak fluktuatif, dengan Brent sempat menyentuh 126,41 dolar AS per barel sebelum ditutup di 114,01 dolar AS, sementara WTI berada di 105,07 dolar AS per barel.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan ini dipicu meningkatnya kebutuhan impor minyak akibat lonjakan harga global.
“Bayangkan kebutuhan Indonesia untuk minyak mentah itu 2,1 juta barrel (dalam sehari), saya berulang-ulang ini data, 2,1 juta barrel per hari. Produksi minyak di dalam negeri itu hanya 600.000 barrel,” ujar Ibrahim saat dihubungi awak media, Jumat (1/5/2026).
Ia menyarankan pemerintah melakukan moratorium sementara sejumlah program besar seperti MBG, Kopdes Merah Putih, hingga belanja alutsista agar anggaran difokuskan pada kebutuhan impor energi.
Menurutnya, langkah serupa pernah dilakukan pada era Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo saat menghadapi krisis.
Di sisi lain, Bank Indonesia dinilai telah melakukan intervensi moneter secara optimal. Bank sentral juga menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh fundamental ekonomi domestik, yang masih tergolong kuat dengan pertumbuhan di atas 5 persen.