MELIHAT INDONESIA, BLORA – Bandara Ngloram di Cepu, Blora, yang diresmikan Presiden Jokowi pada 17 Desember 2021, kini tak ubahnya bangunan kosong. Sepi, tanpa aktivitas, dan jauh dari harapan sebagai gerbang udara baru bagi masyarakat Blora dan sekitarnya.
Saat dikunjungi akhir Januari 2025, suasana bandara begitu lengang. Pintu kedatangan dan keberangkatan tertutup rapat. Lampu-lampu di area tunggu dipadamkan, meninggalkan kursi-kursi kosong yang tak pernah lagi diduduki penumpang.
Bandara Baru, Fasilitas Sudah Rusak!
Tak hanya tak beroperasi, beberapa bagian bangunan mulai mengalami kerusakan. Di area drop-off, atap bocor parah hingga air hujan menggenangi bagian depan terminal. Tempat parkir yang luas juga tak berfungsi sebagaimana mestinya, hanya menyisakan beberapa motor dan kendaraan dinas Kementerian Perhubungan.
Akses menuju bandara pun seolah ditinggalkan. Dari dua jalur yang tersedia, satu ruas jalan bahkan telah ditutup, sedangkan loket parkir yang seharusnya digunakan untuk petugas kini dibiarkan kosong tanpa fungsi.
Proyek Fantastis Rp 132 Miliar, Tapi Tak Beroperasi!
Bandara Ngloram menelan anggaran negara hingga Rp 132 miliar. Namun, sejak Maret 2023, tak ada lagi maskapai yang melayani penerbangan komersial di sini.
Citilink, satu-satunya maskapai yang sempat melayani rute Ngloram–Halim Perdanakusuma, hanya bertahan kurang dari tiga bulan sebelum akhirnya menghentikan operasinya akibat rendahnya jumlah penumpang.
Padahal, bandara ini digadang-gadang menjadi solusi konektivitas warga Blora yang selama ini harus bepergian ke Semarang atau Surabaya untuk mendapatkan akses penerbangan. Namun, realitas berbicara lain—Bandara Ngloram kini seakan menjadi monumen proyek ambisius yang gagal dimanfaatkan.
Debat Panas di Pilkada Blora
Tak berfungsinya Bandara Ngloram juga menjadi sorotan dalam Pilkada Blora 2024.
Bupati petahana Arief Rohman berargumen bahwa bandara ini tetap memiliki potensi besar untuk mendukung pariwisata dan mobilitas warga. Namun, lawannya, Abu Nafi, menilai proyek ini sebagai pemborosan anggaran yang akhirnya tak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya kadang berpikir, kemarin ketika awal dibuka sudah jalan, tiba-tiba tutup lagi. Jangan sampai Bandara Ngloram hanya jadi proyek mangkrak,” kritik Abu Nafi dalam debat kandidat 4 November 2024.
Arief Rohman pun membela diri, menyatakan bahwa kelangsungan Bandara Ngloram sepenuhnya bergantung pada pemerintah pusat karena proyek ini didanai dari APBN.
Bandara yang Ditinggalkan
Dibangun dengan luas 27 hektare, dengan landas pacu sepanjang 1.500 meter x 30 meter, bandara ini seharusnya mampu melayani pesawat sekelas ATR 72 dengan kapasitas 210.000 penumpang per tahun.
Namun kini, tanpa penerbangan yang beroperasi, Bandara Ngloram tak lebih dari mega proyek yang kehilangan tujuan.
Apakah ada harapan bandara ini kembali beroperasi? Ataukah Bandara Ngloram hanya akan menjadi catatan kelam investasi yang sia-sia? (**)