
MELIHAT INDONESIA – Saat dihadapkan dengan bencana atau musibah yang mengancam keselamatan dan keamanan, dzikir menjadi salah satu sarana spiritual yang dapat memberikan ketenangan dan kekuatan bagi jiwa.
Dzikir, atau mengingat Allah SWT dengan menyebut nama-Nya, merupakan praktik yang diajarkan dalam agama Islam sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya dalam segala keadaan, baik suka maupun duka.
Dzikir memiliki kekuatan untuk menenangkan pikiran dan menguatkan hati dalam menghadapi cobaan yang datang tiba-tiba seperti bencana alam.
Dengan mengingat Allah SWT dan memohon pertolongan-Nya, seseorang dapat menemukan kedamaian dalam hati dan merasakan kepercayaan yang mendalam bahwa Allah SWT selalu bersama-sama dengan hamba-Nya dalam setiap langkah hidup.
Selain itu, dzikir juga menjadi sarana untuk memperoleh kekuatan spiritual dalam menghadapi ujian. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28).
Dengan terus mengingat nama Allah SWT dan memohon pertolongan-Nya, seseorang dapat merasakan kehadiran-Nya yang mendampingi dan memberikan kekuatan dalam menghadapi bencana dan musibah.
Oleh karena itu, dalam saat-saat genting seperti itu, dzikir menjadi sarana yang sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk menguatkan iman dan menenangkan jiwa di tengah cobaan yang dihadapi.
Menukil voa-islam.com, dianjurkan untuk memperbanyak zikrullah secara umum dalam semua kondisi; berdiri, duduk, dan berbaring. Juga saat aman atau terancam, bahagia atau sedih, lapang atau sempit, dan seterusnya.
Dalam situasi tertentu, terdapat bacaan zikir yang paling pas untuk diperbanyak. Khususnya, saat seseorang dalam kondisi sedih dan menderita karena tertimpa bencana.
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa membaca saat berada dalam derita,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الحلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Tiada Tuhan yang hak kecuali Allah Yang Maha Agung dan Penyantun, Tiada Tuhan yang hak kecuali Pemilik Arasy yang agung, Tiada Tuhan yang hak kecuali pemilik langit dan pemilik bumi serta pemilik Arasy yang mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Mengamalkan zikir ini dengan diulang-ulang dan terus-menerus. Tidak hanya sekali, lalu behenti. Perintahnya ini disertai dengan pengulangan. Ini ditunjukkan pada dzahir lafadz hadits “كانيقولعندالكرب”.
“Inda al-Karbi”, menunjukkan bahwa zikir atau doa ini diucapkan di kondisi tersebut. Yaitu dalam kondisi sulit, sedih, menderita, dan juga saat tertimpa bencana.
Faidah dari zikir ini supaya seorang muslim yang sedang susah segera kembali kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan zikir dan doa. Terutama saat sedang mengalami musibah atau tertimpa bencana.
Redaksi kalimat di atas berisi zikir kalimat tauhid, penetapan Rububiyah Allah dan Nama-Nya (Allah, Al-‘Adziim, Al-Haliim). Namun kandungannya mencakup doa juga; doa ibadah. Dengan itu ia berharap kepada Allah keteguhan, kesabaran, dan semua bentuk kebaikan.
Makna kedua, kalimat-kalimat zikir ini menjadi wasilah untuk mengawali doa permintaan. Yaitu seseorang mengawali doanya dengan memuji, menyanjung, dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila orang yang berdoa mengerjakan itu maka doanya akan lebih cepat diijabah. Karenanya, di antara banyak doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pujian kepada Allah.
Seorang mukmin wajib sadar bahwa ujian dan cobaan di dunia adalah keniscayaan. Hikmahnya untuk menguji keimanan seseorang. Apakah ia tetap mengabdi kepada Allah dalam semua kondisi dan keadaannya; saat senang dan sedih, lapang dan sempit, mendapat nikmat dan musibah?
Karenanya, meneguhkan diri saat sedih dan menderita ini menjadi kewajiban. Salah satu sebabnya adalah dengan mewiridkan kalimat ini secara berulang-ulang sehingga teguh iman dan tauhid. Wallahu a’lam. (**)