MELIHAT INDONESIA – Berikut 5 fakta penting tentang Bandara Dhoho Kediri, yang akan secara resmi akan mulai beroperasi untuk penerbangan komersial pada Jumat, 5 April 2024.
Bandara Internasional Dhoho atau Bandara Dhoho terletak di wilayah yang secara teritorial masuk pada tiga kecamatan di Kabupaten Kediri, yakni Kecamatan Banyakan, Grogol dan Tarokan.
Pembangunan Dhoho International Airport atau Bandara Dhoho dimulai pada tahun 2019-2020, dengan tahap pertama adalah pekerjaan cut and fill. Sebab, lokasi Bandara Dhoho Kediri ini sebagian besar merupakan lahan perbukitan. Sementara, pekerjaan konstruksi Bandara Dhoho dimulai tahun 2021-2023 , meliputi pekerjaan airside (area udara) dan landside (area darat).
Bandara Dhoho Kediri, yang selesai dibangun pada masa pemerintahan Bupati Kediri Himawan Hanindhito Pramana ini, sepenuhnya dibangun oleh pihak swasta. Dalam hal ini adalah PT Dhoho Surya Investama, yang merupakan anak perusahaan PT Gudang Garam.
Berikut 5 fakta Bandara Dhoho Kediri, yang dirangkum tim redaksi Melihat Indonesia:
1. Bandara pertama yang diinisiasi dan dibangun swasta
Bandara Internasional Dhoho adalah bandar udara pertama di Indonesia yang pembangunannya 100 persen dibiayai swasta, yakni PT Dhoho Surya Investama. Total investasi pembangunan Bandara Dhoho Kediri ini mencapai Rp13 triliun.
Pembangunan Bandara Dhoho Kediri ini merupakan sejarah, dalam skema pembiayaan Proyek Strategis Nasional (PSN). Melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), PT Dhoho Surya Investama, yang sepenuhnya membiayai pembangunan bandara, memiliki konsesi pengelolaan selama 50 tahun.
“Ini adalah proyek unsolicited KPBU pertama yang dari awal kita design bersama-sama, sampai selesai,” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, saat meninjau bandara, Jumat (8/12/2023).
2. Masuk 10 bandara terluas di Indonesia
Bandara Internasional Dhoho dibangun di atas lahan seluas 317 hektar, menjadikannya masuk dalam 10 bandara terluas di Indonesia. Saat ini, bandar udara terluas nomor 1 di Indonesia adalah Badara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) yang memiliki luas 2.555 hektare.
Setelahnya adalah Bandara Internasional Kertajati, di Majalengka, Jabar, dengan luas 1.800 hektare; Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, seluas 1.762 hektare; Bandara Internasional Kualanamu, Sumatra Utara (Sumut) seluas 1.650 hektare; Bandara Internasional Yogyakarta, seluas 600 hektare.
Lalu, Bandara Internasional Lombok, dengan luas lahan 550 hektare; Bandara Internasional Juanda Surabaya, Jawa Timur, seluas 477 hektare; Bandara Internasional Minangkabau, Sumatra Barat (Sumbar), seluas 427 hektare; Bandara Internasional Sultan Hasanudin, Sulawesi Selatan (Sulsel) seluas 381 hektare; dan terakhir adalah Bandara Dhoho Kediri.
3. Salah satu runway terpanjang di Indonesia
Dibangun 2021-2023, Bandara Internasional Dhoho merupakan salah satu bandara dengan runway atau landasan pacu terpanjang di Indonesia, selain Bandara Soekarno-Hatta. Dengan panjang runway 3.300 meter, memungkinkan untuk pendaratan pesawat berbadan lebar, misalnya pesawat jenis Boeing 777.
Dengan panjang runway ini, bisa digunakan untuk pesawat besar yang melayani penerbangan dari dan ke luar negeri secara langsung. Sehingga sangat potensial menjadi embarkasi haji dan umrah.
4. Dukung mobilitas pekerja migran
Bandara Internasional Dhoho menjadi bandara yang potensial berkembang dengan cepat, karena kawasan barat – selatan Jawa Timur merupakan salah satu penyumbang pekerja migran terbesar di provinsi ini.
5. Citilink jadi maskapai pertama
Citilink menjadi maskapai penerbangan yang akan melayani penerbangan komersial pertama di Bandara Dhoho Kediri, pada Jumat (5/4/2024). Pada tahap ini, Citilink baru melayani saru rute penerbangan saja: Jakarata via Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan sebaliknya.
Bandara Internasional Dhoho diproyeksikan dapat menampung 1,5 juta penumpang per tahun pada tahap I, 4,5 juta penumpang per tahun tahap II, dan 10 juta penumpang per tahun pada tahap III.
Beroperasinya Bandara Internasional Dhoho ini memiliki arti yang strategis sebagai pengungkit perekonomian dan pengembangan pariwisatadi kawasan Kediri Raya dan hinterlandnya seperti Nganjuk, Tulungagung, Blitar, Jombang dan wilayah lain di sekitarnya.
Bandara Internasional Dhoho berada di antara dua bandara besar yaitu Bandara Juanda yang berjarak kurang lebih 150 Km dan Bandara Adi Sumarmo Solo yang berjarak kurang lebih 200 km. Bandara Dhoho akan menjadi episentrum baru untuk bangkitan penumpang udara di kawasan barat – selatan Provinsi, Jatim khususnya daerah Tulungagung, Blitar, Trenggalek, Nganjuk, serta Jombang.
Demikian 5 fakta tentang Bandara Internasional Dhoho Kediri, yang dirangkum Melihat Indonesia, dari berbagai sumber. (*)