MELIHAT INDONESIA, SURABAYA – Nadya Zhafira mencatatkan sejarah kecil yang membanggakan. Di usianya yang belum genap 16 tahun, ia telah resmi menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Airlangga. Tak main-main, Nadya diterima di Program Studi S1 Farmasi—jurusan impian banyak pelajar dengan persaingan ketat.
Ia bukan hanya yang termuda, tapi juga berhasil menembus program studi saintek terfavorit kedua di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) Unair 2025. Sebuah pencapaian yang tak banyak remaja seumurannya bisa raih.
Remaja asal Jember itu bahkan mengaku nyaris tak percaya ketika pengumuman kelulusan diterima. Dengan penuh rasa syukur, ia menyebut keberhasilannya sebagai berkah terbesar bagi diri dan keluarganya.
“Jujur saya nggak menyangka bisa diterima di usia semuda ini. Rasanya seperti mimpi, dan tentu jadi kebanggaan tersendiri untuk keluarga dan sekolah,” kata Nadya.
Pilihan Nadya mengambil jurusan farmasi bukan keputusan tiba-tiba. Sejak kecil, dunia kesehatan sudah menarik perhatiannya. Ia merasa panggilan hidupnya ada pada pengembangan ilmu obat-obatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Farmasi itu bukan hanya soal obat, tapi tentang bagaimana kita bisa menggabungkan sains dengan kepedulian terhadap sesama. Itu yang bikin saya jatuh cinta pada bidang ini,” ucapnya mantap.
Kesuksesan akademik Nadya tak datang dalam semalam. Ia menjalani pendidikan akselerasi sejak SMP hingga SMA. Dalam waktu yang lebih singkat dari teman sebayanya, Nadya sudah menyelesaikan seluruh tahap wajib pendidikan menengah.
Menurut Nadya, keberhasilan tersebut lahir dari disiplin belajar, dukungan keluarga, dan lingkungan sekolah yang positif. Ia menekankan pentingnya manajemen waktu dan fokus terhadap tujuan sejak dini.
Di balik prestasinya, Nadya tetap menyadari adanya tantangan baru yang menantinya di kampus. Salah satunya adalah perbedaan usia yang cukup signifikan dengan mahasiswa lain. Namun, ia memilih untuk melihatnya sebagai peluang, bukan penghalang.
“Saya sadar, teman-teman lain mungkin lebih dewasa secara sosial. Tapi saya melihat ini sebagai kesempatan untuk belajar dari mereka. Saya nggak takut berbaur dan aktif ikut kegiatan kampus,” ujarnya.
Keberanian Nadya meninggalkan zona nyaman sebayanya patut diapresiasi. Saat remaja lain masih sibuk dengan tugas sekolah atau masa transisi, Nadya sudah bersiap menyelami dunia perguruan tinggi yang jauh lebih kompleks.
Prestasi gemilang ini tentu tak lepas dari peran besar kedua orang tua. Mereka selalu memberikan motivasi, akses belajar, dan kebebasan kepada Nadya untuk mengeksplorasi potensinya. Nadya sendiri mengaku bersyukur bisa tumbuh di lingkungan yang penuh dukungan.
Tak hanya unggul secara akademik, Nadya juga dikenal aktif dan berjiwa sosial. Ia percaya bahwa menjadi pintar saja tak cukup—harus dibarengi dengan keterampilan bersosialisasi dan kontribusi nyata bagi lingkungan.
Langkah Nadya menuju bangku kuliah di usia 15 tahun bukan sekadar rekor pribadi. Ini adalah pesan kuat bagi generasi muda: bahwa keberanian bermimpi dan kerja keras bisa mempercepat pencapaian, tak peduli usia.
Universitas Airlangga, salah satu kampus terbaik di Indonesia, kini resmi menjadi rumah baru bagi Nadya. Di sana, ia siap membuka babak baru perjuangannya.
Ketika sebagian remaja baru merancang masa depan, Nadya sudah melangkah ke dalamnya. Ia tak menunggu jadi “cukup umur” untuk mulai mengejar mimpi—ia memilih untuk jadi cukup tekun.
Dengan prestasi luar biasa dan semangat belajar tinggi, Nadya Zhafira telah membuktikan satu hal penting: batas usia hanyalah angka. Yang benar-benar menentukan adalah tekad yang menyala. (**)