Kamis, April 23, 2026

Teka-teki Kematian Turis Australia di Bali, Jenazah Dipulangkan Tanpa Jantung

Warga negara Australia Byron James Dumschat alias Byron Haddow (23) ditemukan tewas di kolam renang vila The Grove Bumbak, Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Bali, pada 26 Mei 2025. Kasus kematian turis asal Queensland itu menyisakan tanda tanya besar, mulai dari luka kekerasan di tubuh, jenazah yang dipulangkan ke Australia tanpa jantung, hingga rekan-rekan korban yang pulang tanpa diperiksa polisi.

Pemeriksaan luar terhadap jenazah dilakukan dokter forensik pada 30 Mei 2025. Hasilnya ditemukan memar pada dahi kiri, kelopak mata kanan, serta lutut kanan akibat kekerasan tumpul. Selain itu, terdapat luka lecet pada kelopak mata kanan serta punggung kaki kanan.

“Ditemukan memar pada dahi kiri, kelopak mata kanan serta lutut kanan akibat kekerasan tumpul. Ditemukan pula luka lecet pada kelopak mata kanan serta punggung kaki kanan akibat kekerasan tumpul,” ujar Ps. Kasubsi Penmas Sihumas Polres Badung Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, Jumat (26/9/2025).

Namun, setelah pemeriksaan dalam pada 4 Juni 2025, dokter menyimpulkan penyebab kematian paling mungkin adalah intoksikasi etanol atau keracunan alkohol.

“Kemungkinan penekanan sistem saraf pusat serta gangguan penilaian/kognitif menjadi sangat besar peluangnya dan berpotensi pula mengakibatkan orang ini tidak mampu mengeluarkan dirinya dari air,” kata Ayu.

Kapolres Badung AKBP Arif Batubara menegaskan hal serupa. “Berdasarkan hasil autopsi, karena kadar alkohol yang tinggi dalam darahnya,” ujarnya. Ia memastikan tidak ada unsur pidana dalam kematian Byron.

“Ditemukan (tewas) di kolam renang. (Unsur pidana) tidak ada,” kata Arif.

Polres Badung sudah memeriksa beberapa saksi, termasuk kerabat Byron dan pekerja proyek di vila sebelah TKP, Ahmad Fauzi. Pada 25 Mei 2025 sekitar pukul 08.00 Wita, Fauzi mendengar tangisan perempuan WNA dari dalam vila. Saat mengintip, ia melihat empat orang di dalam: dua perempuan dan dua laki-laki.

“Saksi kemudian naik ke lantai atas untuk melihat ke TKP melalui celah jendela dan dilihat ada empat WNA di dalam vila, yaitu dua orang perempuan dan satu laki-laki posisi berdiri dan satu orang laki-laki posisi tengadah di kursi kayu dekat kolam,” ujar Ayu.

Tiga orang itu diketahui adalah teman Byron: Baily Peter Woods dan dua perempuan asal Melbourne. Mereka disebut sempat berada bersama korban sebelum kematiannya.

Kontroversi mencuat setelah jenazah Byron dipulangkan ke Australia tanpa jantung. Hal itu membuat keluarga terkejut sekaligus marah. Jantung baru dikembalikan ke Queensland pada Agustus 2025, lebih dari dua bulan setelah kematian Byron.

Rumah Sakit Prof Ngoerah, yang melakukan autopsi, membantah tuduhan pencurian organ. Direktur keperawatan medis RS Prof Ngoerah, I Made Darmajaya, menegaskan, “Saya tegaskan, atas nama Rumah Sakit Prof Ngoerah, bahwa rumor yang beredar tentang pencurian organ adalah salah. Rumah sakit tidak berkepentingan untuk menyembunyikan [jantung]. Sebenarnya, kepentingan kami adalah dalam konteks pemeriksaan sesuai dengan hukum.”

Menurut Darmajaya, jantung dipulangkan belakangan karena masih dibutuhkan untuk pemeriksaan patologi.

Kuasa hukum keluarga, Ni Luh Arie Ratna Sukasari, menilai ada “pertanyaan serius” tentang praktik medis di Bali. Ia juga mempertanyakan keputusan polisi yang membiarkan tiga rekan Byron kembali ke Australia tanpa diinterogasi.

“Sayangnya, tanpa memahami apa yang menjadi pertimbangan polisi, ketiganya justru diizinkan meninggalkan Bali tanpa diinterogasi dan tanpa memberikan keterangan terkait peristiwa yang menyebabkan kematian korban,” ujarnya.

Polisi Bali belakangan menyatakan akan meminta bantuan Kepolisian Federal Australia (AFP) untuk memeriksa ketiga saksi tersebut. Dokumen yang dilihat ABC News menyebutkan bahwa kepolisian ingin mengetahui jam-jam terakhir Byron sebelum kematiannya.

Ibu korban, Chantal Haddow, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Mereka bilang dia tenggelam di kolam renang…dan tidak ada dugaan tindak kejahatan. Ini mimpi buruk yang membuat kami tidak bisa bangun darinya,” ujarnya.

Ketika mengetahui jenazah anaknya dipulangkan tanpa jantung, ia pun terpukul. “Ketika saya mengetahui dia dikembalikan tanpa jantungnya, saya sangat malu. Saya bahkan tidak tahu bagaimana harus memproses hal itu,” katanya.

Keluarga Byron juga meminta agar polisi menyelidiki transaksi keuangan sebelum kematian dan memeriksa rekaman CCTV secara forensik. Saat ini, Pengadilan Koroner Queensland tengah melakukan penyelidikan dengan bantuan Kepolisian Queensland.

Ketua Ikatan Dokter Bali, Dr Made Sudarmaja, menegaskan autopsi dilakukan sesuai prosedur standar. Namun hingga kini, teka-teki kematian Byron Haddow di Bali masih menyisakan misteri dan kecurigaan.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.