MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Pengguna alat kontrasepsi hormonal, khususnya intrauterine device (IUD), mendapatkan kabar kurang menggembirakan dari sebuah studi terbaru.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA pada 16 Oktober 2024 ini menunjukkan bahwa pengguna IUD memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker payudara dibandingkan dengan pengguna metode kontrasepsi lainnya.
Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa risiko keseluruhan kanker payudara pada pengguna IUD tetap lebih rendah dibandingkan dengan risiko yang dihasilkan dari faktor-faktor lain, seperti gaya hidup.
Penelitian ini menganalisis data kesehatan dari ribuan wanita Denmark berusia antara 15 hingga 49 tahun selama periode yang cukup panjang. Para peneliti membagi partisipan menjadi dua kelompok: satu kelompok menggunakan kontrasepsi hormonal, sementara kelompok lainnya tidak menggunakan kontrasepsi hormonal sama sekali. Dari lebih dari 150 ribu wanita yang terlibat dalam studi, sekitar 1.600 kasus kanker payudara terdeteksi.
Dari hasil analisis, ditemukan bahwa wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal memiliki risiko kanker payudara yang 40 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan kontrasepsi. Namun, peningkatan risiko ini tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan lama penggunaan IUD.
Sebelumnya, beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan antara penggunaan alat kontrasepsi hormonal dan risiko kanker, tetapi studi terbaru ini lebih spesifik dalam mengidentifikasi risiko yang terkait dengan IUD. American College of Obstetricians and Gynecologist telah mengingatkan pentingnya bagi setiap wanita untuk mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul akibat penggunaan IUD.
Direktur Komunikasi dan Edukasi dari Breast Cancer Foundation, Susan G. Komen, menilai bahwa wajar jika hasil penelitian ini memicu kepanikan di kalangan masyarakat.
“Meningkatnya risiko kanker dalam bentuk apa pun adalah hal yang mengkhawatirkan,” ujarnya. Namun, Komen juga menekankan pentingnya informasi ini sebagai bahan diskusi antara pasien dan dokter, bukan sebagai alasan untuk panik.
Di sisi lain, Profesor Kedokteran dari University of California, Eleanor Bimla Schwarz, menegaskan bahwa manfaat IUD jauh lebih signifikan dibandingkan dengan risiko yang ada. Menurutnya, risiko kanker payudara yang dihasilkan sangat kecil, yaitu sekitar satu dari seribu.
Ia juga menambahkan bahwa risiko tersebut lebih rendah dibandingkan dengan banyak risiko sehari-hari yang sering dihadapi oleh wanita.
IUD tidak hanya efektif dalam mencegah kehamilan, tetapi juga dapat membantu mengurangi pendarahan menstruasi yang berlebihan dan kram. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa penggunaan IUD dapat mengurangi risiko kanker endometrium.
Ahli penyakit dalam dari American Cancer Society, Arif Kamal, memberikan catatan penting terkait penelitian ini. Ia mencatat bahwa studi ini tidak mempertimbangkan seberapa sering wanita menjalani pemeriksaan kanker payudara, seperti mammogram.
“Pengguna IUD mungkin lebih sering berinteraksi dengan dokter, yang dapat meningkatkan kemungkinan mereka mendapatkan pemeriksaan yang diperlukan,” tambah Kamal.
Ia juga menyarankan wanita yang berisiko kanker payudara untuk mengetahui bahwa ada banyak pilihan alat kontrasepsi lain yang tersedia. Selain itu, Kamal menekankan pentingnya menjaga gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga dan membatasi konsumsi alkohol, untuk menurunkan risiko kanker payudara.
Temuan ini mengingatkan pentingnya bagi wanita untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai pilihan kontrasepsi yang sesuai dan untuk terus memantau kesehatan mereka secara berkala. (**)