MELIHAT NDONESIA – Kerasnya hati seringkali menjadi penyebab seseorang sulit untuk menerima kebenaran, meskipun bukti sudah jelas terlihat. Ini bukan hanya masalah pengetahuan, melainkan tentang ego dan perasaan yang membuat seseorang merasa lebih unggul dari yang lain. Al-Qur’an, dalam surat Al-Baqarah ayat 67-74, menggambarkan kondisi ini saat menceritakan Bani Israil yang menolak kebenaran meski sudah dihadapkan dengan bukti nyata. Hati mereka diumpamakan lebih keras dari batu.
Penyakit hati yang keras ini sulit disembuhkan, karena penderitanya harus berhadapan dengan dirinya sendiri—dengan egonya. Namun, walau sulit, hati yang keras tetap bisa dilunakkan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam memberikan tips untuk melunakkan hati yang keras melalui empati dan kepedulian terhadap sesama.
Dilansir dari nu.or.id, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, beliau bersabda:
“إن أردت تلين قلبك، فأطعم المسكين، وامسح رأس اليتيم”
Artinya: “Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.”
Dalam hadits ini, Rasulullah menekankan pentingnya empati sebagai jalan untuk melunakkan hati. Memberi makan orang miskin adalah salah satu cara untuk melatih empati, karena makanan adalah kebutuhan pokok setiap manusia. Orang miskin sering kali hanya mampu memenuhi kebutuhan primernya, sedangkan yang lebih miskin lagi—faqîr—sering kali bahkan tidak mampu memenuhinya. Uluran tangan terhadap mereka adalah bentuk nyata dari kebaikan.
Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa bergaul dengan orang miskin dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. Sebaliknya, bergaul dengan orang kaya justru sering kali membuat seseorang kurang menghargai rizki yang dimiliki.
Langkah lain yang dianjurkan adalah mengusap kepala anak yatim. Ini bukan sekadar tindakan fisik, tetapi simbol dari rasa kasih sayang, kelembutan, dan perlindungan. Rasulullah bersabda:
“من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله ، كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ، ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده ، كنت أنا وهو في الجنة كهاتين ، وقرن بين أصبعيه”
Artinya: “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan hanya karena Allah, maka baginya setiap rambut yang disentuh tangannya itu adalah kebaikan. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada anak yatim yang diasuhnya, aku bersama dia di surga seperti ini.” (Sambil menunjuk dua jarinya yang berdekatan).
Hadits ini menegaskan bahwa setiap kebaikan yang diberikan kepada anak yatim akan dibalas dengan kebaikan yang tak terhingga, sebagaimana jumlah rambut yang diusap. Inilah yang membuat hati yang keras menjadi lembut, karena Allah sedang memberkahi dan menolong mereka yang berbuat baik kepada sesama, terutama kepada orang-orang lemah.
Dengan empati dan kebaikan yang tulus, hati yang keras bisa terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan. Wallahu a’lam. (**)