MELIHAT INDONESIA, KUNINGAN – Di tengah sulitnya mendapatkan gas elpiji bersubsidi, para pelaku UMKM di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menemukan solusi cerdas. Dengan memanfaatkan limbah minyak goreng, mereka menciptakan kompor alternatif yang tak hanya hemat tetapi juga ramah lingkungan.
Kompor dari Limbah Minyak Goreng, Solusi di Tengah Kelangkaan Elpiji
Salah satu inovasi datang dari Roemah Puyuh Amih Ine di Desa Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus. Muhamad Taufiq, pemilik usaha ini, merancang kompor unik berbahan semen, pipa besi bekas, dan blower kecil yang mampu menghasilkan api layaknya kompor gas.
“Minyak jelantah dialirkan ke tungku, lalu ditiup dengan blower hingga menghasilkan api yang stabil,” jelas Taufiq saat ditemui di dapurnya.
Berkat temuannya, ia tak perlu bergantung pada gas elpiji tiga kilogram yang kini semakin sulit didapatkan.
Dari Limbah Jadi Energi, Hemat Ratusan Ribu Rupiah!
Taufiq mengolah tiga hingga lima liter minyak jelantah per hari, yang biasanya menjadi limbah pencemar lingkungan. Dengan kreativitasnya, ia mengubah minyak bekas penggorengan puyuh dan ikan menjadi sumber energi alternatif.
Sejak beralih ke kompor ini, pengeluarannya untuk bahan bakar menurun drastis. “Biasanya, satu tabung gas hanya cukup untuk tiga hari. Sekarang, cukup 3-4 liter minyak jelantah untuk aktivitas memasak seharian,” ujarnya.
Tak Takut Lagi Kelangkaan Elpiji
Banyak UMKM kesulitan mendapatkan elpiji bersubsidi, namun tidak bagi Taufiq. “Saat orang lain susah cari gas, Alhamdulillah saya tetap bisa produksi. Lebih hemat dan tetap bisa jualan,” katanya.
Namun, ia mengakui bahwa kompor alternatif ini masih memiliki kelemahan. Berbeda dengan tabung gas yang praktis dibawa, tungku ini memerlukan pemantauan lebih agar api tetap stabil.
Meski begitu, inovasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas bisa mengatasi krisis. Bisakah kompor berbahan limbah minyak ini menjadi solusi energi alternatif di masa depan? (**)