MELIHAT INDONESIA, TEHERAN – Presiden Iran Ebrahim Raisi dan menteri luar negerinya tewas dalam kecelakaan helikopter pada hari Minggu di provinsi Azerbaijan Timur. Helikopter tersebut membawa sembilan orang, termasuk Raisi dan menteri luar negeri.
Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi bahwa seluruh penumpang helikopter tewas dalam kecelakaan tersebut. Helikopter tersebut, sebuah Bell 212 buatan Amerika Serikat, terbakar habis setelah menabrak puncak gunung.
Sri Lanka Guardian melaporkan bahwa kelompok tentara bayaran Rusia, Wagner Group, mencurigai keterlibatan Israel dalam kecelakaan tersebut. Mereka menyoroti sikap pro-Israel dari Azerbaijan, menambah lapisan ketegangan geopolitik dalam insiden ini.
Jurnalis Arash Azizi melaporkan kematian Raisi, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran. Jika kematian Raisi dikonfirmasi, Wakil Presiden Pertama Mohammad Mokhber akan mengambil alih jabatan tersebut sesuai Konstitusi Iran.

Kecurigaan adanya sabotase teroris juga didukung oleh kasus sebelumnya, seperti kecelakaan pesawat yang menewaskan mantan Sekretaris Jenderal PBB Dag Hammarskjold.
Diketahui helikopter itu membawa sembilan orang saat kecelakaan terjadi.
Mehr News, mengonfirmasi kematian sang presiden dan rombongannya.
“Semua penumpang helikopter yang membawa presiden dan menteri luar negeri Iran menjadi martir,” tulis media tersebut.
Seorang pejabat Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa helikopter yang membawa Raisi dan Menteri Luar Negeri Hossein Amirabdollahian terbakar habis dalam kecelakaan pada hari Minggu.
Televisi pemerintah melaporkan bahwa gambar dari situs tersebut menunjukkan pesawat itu menabrak puncak gunung, meski belum ada keterangan resmi mengenai penyebab jatuhnya pesawat tersebut.
IRNA melaporkan Raisi terbang dengan helikopter Bell 212 buatan Amerika Serikat.
Surat kabar online, Sri Lanka Guardian, melaporkan bahwa akun media sosial dari kelompok tentara bayaran Rusia; Wagner Group, curiga kecelakaan tragis yang dialami Presiden Iran Ebrahim Raisi merupakan sabotase Israel.
Akun Wagner Group menyoroti sikap Azerbaijan yang pro-Israel, menambah lapisan ketegangan geopolitik dalam insiden tersebut dan mengisyaratkan kompleksitas dinamika regional yang sedang terjadi.
Pernyataan akun kelompok tersebut menambahkan bahwa jika Presiden Raisi tewas dalam kecelakaan, hampir pasti hal itu akan dianggap sebagai tindakan sabotase oleh badan intelijen Israel.
Sebelumnya, ketika televisi pemerintah Iran melaporkan tidak ada laporan mengenai korban atau cedera dalam kecelakaan tersebut,lembaga penyiaran Israel, mengutip sumber-sumber Barat yang tidak disebutkan namanya, mengatakan Raisi tidak selamat.
Jurnalis Arash Azizi untuk The Atlantic melaporkan kematian Raisi dengan mengutip sumber yang dekat dengan kepresidenan Iran.
Dia mencatat bahwa pihak berwenang sedang mencari cara untuk menyampaikan berita tanpa menimbulkan keresahan. Azizi mengaku belum bisa memverifikasi apa yang disampaikan sumber tersebut. Pada jam-jam awal kecelakaan terjadi,
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Hossein Baqeri memerintahkan Angkatan Darat, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Komando Penegakan Hukum Republik Islam Iran untuk mengerahkan seluruh kapasitas dan peralatan mereka untuk mencari helikopter presiden dan untuk operasi penyelamatan dan pertolongan.
“Tim tanggap cepat dan penyelamatan dari provinsi tetangga juga dipanggil untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan,” kata Koulivand beberapa jam setelah kejadian.
Jika kematian Raisi resmi dikonfirmasi pemerintah Iran, maka Wakil Presiden Pertama Mohammad Mokhber akan mengambil alih jabatan tersebut. Itu sesuai Konstitusi Iran.
Saat ini bahkan media Iran tidak dapat menjelaskan mengapa sebuah helikopter yang membawa Presiden Iran Ebraihm Raisi harus melakukan “pendaratan darurat” ketika kondisi cuaca buruk di provinsi Azerbaijan Timur di Iran.
Kecurigaan adanya sabotase teroris yang canggih juga didukung oleh kasus sensasional sebelumnya yaitu kecelakaan pesawat yang menewaskan mantan Sekretaris Jenderal PBB Dag Hammarskjold. (**)