Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial terkait perannya dalam menjaga stabilitas global, khususnya dalam konflik dengan Iran. Ia menyebut dunia bisa berada dalam kondisi kacau jika dirinya tidak memimpin.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan jurnalis Jonathan Karl dari ABC News, saat membahas kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
“Jika saya bukan presiden, dunia akan hancur berkeping-keping,” katanya, seperti dilansir Bernama, Rabu (15/4/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengisyaratkan tidak melihat urgensi untuk memperpanjang gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 22 April. Ia bahkan optimistis akan terjadi perkembangan besar dalam waktu dekat.
“Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang menakjubkan ke depan. Saya benar-benar yakin,” ujarnya.
Trump menilai konflik dengan Iran dapat berakhir melalui berbagai skenario, namun ia lebih menginginkan solusi damai melalui kesepakatan.
“Ini bisa berakhir dengan cara apa pun, tetapi saya pikir kesepakatan lebih baik karena mereka bisa membangun kembali,” kata Trump.
“Mereka benar-benar memiliki rezim yang berbeda sekarang. Apa pun yang terjadi, kami telah menyingkirkan kaum radikal. Mereka sudah pergi, tidak lagi bersama kita.”
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya meningkat setelah operasi militer gabungan bersama Israel pada 28 Februari yang menargetkan kemampuan militer Iran, termasuk program nuklir dan rudal balistik. Meski demikian, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama 15 hari pada 7 April 2026.
Situasi semakin memanas setelah negosiasi damai awal di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan. Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan Iran dan mengklaim telah menghentikan seluruh perdagangan laut negara tersebut.
Sebagai respons, Iran menutup Selat Hormuz bagi hampir seluruh kapal asing, kecuali yang berada di bawah kendalinya dan dikenai biaya tertentu. Penutupan ini berdampak besar terhadap distribusi energi global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.
Di tengah situasi tersebut, Pakistan berupaya memainkan peran diplomatik. Perdana Menteri Shehbaz Sharif dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah negara Timur Tengah untuk mendorong kelanjutan negosiasi damai antara kedua pihak.