MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Euro-Med Monitor, sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Jenewa, baru-baru ini merilis laporan yang mengungkapkan bahwa anjing digunakan secara sistematis untuk menyerang, mengintimidasi, menganiaya, dan bahkan melakukan pelecehan seksual terhadap warga Palestina di Jalur Gaza dan fasilitas penahanan Israel.
Salah satu insiden terbaru yang disorot adalah pembunuhan Muhammad Bhar, seorang pria Palestina berusia 24 tahun yang menderita sindrom Down dan autisme, yang tewas diserang oleh anjing militer Israel.
Kejadian ini menambah daftar insiden kekerasan yang melibatkan penggunaan anjing oleh militer Israel. Bulan lalu, sebuah video viral menunjukkan seorang wanita berusia 70 tahun, Dawlat al-Tanani, diserang oleh seekor anjing di rumahnya di kamp pengungsi Jabalia, Gaza.
Dalam kesaksiannya, al-Tanani menggambarkan bagaimana anjing tersebut menggigit lengannya hingga ke tulang dan menyeretnya ke lantai, sementara tentara Israel hanya menonton dari luar.
Menurut laporan dari Euro-Med Monitor, anjing-anjing tersebut sering digunakan oleh pasukan Israel selama operasi militer, termasuk di fasilitas medis.
Pada bulan Desember dan Maret, pasukan Israel menggerebek Rumah Sakit Kamal Adwan dan Rumah Sakit Khan Yunis Nasser, menggunakan anjing untuk mengevakuasi staf medis dan para pengungsi yang berlindung di sana. Anjing-anjing ini juga digunakan untuk mengintimidasi dan menyiksa tahanan di penjara-penjara Israel.

Laporan ini mengundang kecaman dari masyarakat internasional, dengan banyak orang mengutuk tindakan tidak manusiawi ini. Kesaksian para korban dan rekaman insiden-insiden ini telah memicu kemarahan di media sosial, meningkatkan tekanan terhadap Israel atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Fadi Saif al-Din Bakr, seorang pengacara Palestina yang dibebaskan setelah 45 hari ditahan di penjara Israel, menceritakan pengalaman mengerikan yang ia saksikan selama penahanannya. Ia mengungkapkan bahwa tentara Israel menarik seorang pemuda yang duduk di sebelahnya, memaksa pemuda tersebut berbaring di tanah, dan mengikat tangan serta kakinya.
“Tiba-tiba, tentara pendudukan melepaskan anjing polisi terlatih ke arah pemuda tersebut, yang menjadi sasaran [pemerkosaan]. Sepanjang cobaan yang saya alami, ini adalah salah satu hal paling mengerikan yang saya saksikan,” kata Fadi.
Hassan Abu Raida, seorang tahanan yang telah dibebaskan, menambahkan pengalamannya sendiri. Ia menyatakan bahwa dirinya dan tahanan lainnya dipindahkan ke penjara, di mana mereka dilemparkan ke tanah dan anjing-anjing dibiarkan mengencingi mereka saat mereka terbaring.
“Ini adalah bentuk perlakuan yang sangat menghina dan merendahkan martabat manusia,” ujar Hassan.
Ryan W Grim, seorang jurnalis investigasi yang berbasis di Amerika Serikat, mengutip pernyataan Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza mengenai tindakan keji yang dilakukan terhadap tahanan Palestina.
Menurut laporan yang dikutip Ryan, penderitaan terbesar yang dialami oleh para tahanan adalah penyiksaan dengan cara yang sangat kejam, di mana anjing-anjing terlatih digunakan untuk melakukan tindakan yang tidak manusiawi terhadap mereka. “Bukan hanya satu tahanan yang menceritakan kisah ini kepada kami, tapi ada saksinya,” tulis Ryan di akun media sosialnya.
Penggunaan anjing oleh militer Israel dalam kasus ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang pelanggaran hak asasi manusia dan perlakuan tidak manusiawi terhadap tahanan.
Kesaksian-kesaksian ini menambah bukti yang mengarah pada kebutuhan mendesak untuk penyelidikan independen dan langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. (**)