Selasa, Mei 26, 2026

Mahasiswa Unud Diduga Tewas Akibat Dibully, Kemendiktisaintek Pastikan Kasus Diusut Transparan

Kisah memilukan mengguncang Universitas Udayana (Unud) Bali. Seorang mahasiswa bernama Timothy Anugerah Saputra (22) ditemukan meninggal dunia setelah diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai empat Gedung FISIP Unud, Denpasar, pada Rabu (15/10/2025) sekitar pukul 09.00 Wita. Timothy merupakan mahasiswa semester VII Program Studi Sosiologi FISIP Unud. Ia diduga mengalami tekanan psikologis berat akibat perundungan (bullying) yang dilakukan oleh rekan sesama mahasiswa.

Kabar duka ini menyebar cepat di dunia maya dan memicu gelombang simpati serta kemarahan publik. Setelah kejadian, beredar tangkapan layar percakapan grup mahasiswa lintas fakultas seperti FISIP, FKP, dan Kedokteran yang memperlihatkan sejumlah mahasiswa menertawakan kematian Timothy. Mereka bahkan mengolok-olok dan membandingkan fisiknya dengan kreator konten Kekeyi. Sikap nirempati itu memicu kecaman luas, apalagi diketahui beberapa pelaku aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

Pihak kepolisian memastikan Timothy melompat dari lantai empat, bukan lantai dua seperti kabar yang sempat beredar. Kasi Humas Polresta Denpasar Kompol I Ketut Sukadi mengatakan korban sempat terlihat panik sebelum kejadian.

“Terlihat seperti orang panik dan seperti melihat-lihat situasi sekitar kampus,” ujar Sukadi, Kamis (16/10).

Setelah melompat, Timothy tergeletak di depan lobi kampus FISIP Unud dan sempat dilarikan ke RSUP Prof Ngoerah Denpasar, namun nyawanya tak tertolong. Ia dinyatakan meninggal pukul 13.03 Wita akibat pendarahan internal.

Menanggapi kasus tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak Universitas Udayana untuk memastikan penanganan dilakukan secara transparan.

“Kemdiktisaintek turut berdukacita atas wafatnya Saudara Timothy, mahasiswa Universitas Udayana. Kami telah berkoordinasi dengan pimpinan universitas untuk memastikan penanganan kasus ini dilakukan dengan baik, objektif, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dirjen Dikti Kemendiktisaintek Khairul Munadi, Minggu (19/10/2025).

Khairul menegaskan pihaknya mempercayai kampus akan menempuh langkah bijak dan transparan, dengan tetap mengutamakan perlindungan serta pemulihan suasana akademik yang aman bagi seluruh sivitas.

“Kami percaya pihak kampus akan menempuh langkah yang bijak, transparan, dan berkeadilan, dengan tetap mengutamakan perlindungan serta pemulihan suasana akademik yang aman bagi seluruh sivitas,” ujarnya.

Khairul juga mengingatkan bahwa setiap perguruan tinggi wajib memiliki Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) sesuai Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024, yang berfungsi mencegah, menerima laporan, dan menindaklanjuti berbagai bentuk kekerasan, termasuk perundungan.

“Kemdiktisaintek terus mendorong agar Satgas berfungsi secara efektif serta memperkuat budaya kampus yang berintegritas, empatik, dan bebas dari kekerasan,” tutupnya.

Sementara itu, pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unud melalui Wakil Dekan III, I Made Anom Wiranata, membantah bahwa kematian Timothy disebabkan oleh bullying dari teman sekelas atau lingkungan terdekatnya.

“Saudara T itu meninggal bukan karena bullying. Apalagi adik-adik di depan ini tidak mengenal Saudara T. Bullying terjadi setelah T jatuh. Itu bukan dari teman-teman kami, juga bukan dari teman sekelasnya. Bukan sama sekali,” kata Anom, Sabtu (18/10/2025).

Anom juga menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan ibu korban, Timothy memiliki masalah kesehatan mental dan sejak SMP telah menjalani terapi dengan konselor. Namun, Timothy disebut menolak melanjutkan terapi ketika mulai berkuliah.

“Saudara T ini, menurut penuturan ibunya, memiliki masalah kesehatan mental. Sejak SMP, Saudara T mendapat penanganan psikologis dari konselor. Ada terapinya,” ujarnya.

Anom pun mengimbau agar mahasiswa lebih peka dan memahami kondisi mental sesama.

“Memiliki gangguan mental dan tidak sanggup untuk menanggung barangkali segala jenis persoalan yang bagi orang lain beda cara penanganan dan penerimaannya. Kita tidak bisa menyamakan antara Saudara Timoti dengan masyarakat lainnya,” tuturnya.

Kasus kematian Timothy kini menjadi sorotan nasional dan menjadi pengingat pentingnya lingkungan kampus yang aman, empatik, dan bebas kekerasan.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.