Kunjungan kerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Aceh diwarnai kemunculan sejumlah spanduk penolakan yang terpasang di berbagai titik strategis di Kota Banda Aceh. Spanduk tersebut menjadi sorotan karena memuat tuntutan terkait pengelolaan sumber daya alam di Aceh.
Spanduk itu bertuliskan “Tolak Kedatangan Bahlil, Kembalikan Hak Kekayaan Alam Kami Aceh” serta disertai tagar #SaveAceh, #SaveBlokAndaman, #SavePoDAceh, dan #TolakBahlil.
Berdasarkan pantauan di lapangan, spanduk dipasang di sejumlah titik strategis, di antaranya kawasan Simpang Surabaya, depan Kantor Golkar Aceh, hingga beberapa jembatan di pusat Kota Banda Aceh. Hingga kini, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan spanduk tersebut.
Kemunculan spanduk itu diduga berkaitan dengan kekecewaan sebagian masyarakat terhadap kebijakan pengelolaan minyak dan gas di Aceh, terutama setelah disetujuinya Plan of Development (PoD) I Lapangan Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman.
Sebelumnya, Pemerintah Aceh mendorong agar pengelolaan migas di Blok South Andaman tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah. Salah satu harapan yang disampaikan adalah pembangunan fasilitas pengolahan migas di Aceh sehingga nilai tambah hasil sumber daya alam dapat dinikmati masyarakat setempat.
Tagar yang tercantum dalam spanduk juga dinilai mencerminkan tuntutan agar pengelolaan kekayaan alam Aceh lebih mengedepankan kepentingan daerah, termasuk menyuarakan penolakan terhadap PoD yang telah disetujui.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dijadwalkan menjalani rangkaian kunjungan kerja di Aceh pada 11–22 Juli 2026. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kemunculan spanduk penolakan tersebut.