MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Pada Kamis, 22 Agustus 2024, gelombang demonstrasi mahasiswa mengguncang beberapa kota besar di Indonesia. Ketegangan politik terkait rencana revisi Undang-Undang (UU) Pilkada mencapai puncaknya dengan terjadinya aksi protes di Bandung, Makassar, dan Semarang.
Dikutip dari berbagai sumber, masing-masing kota menyaksikan aksi protes yang merefleksikan penolakan terhadap perubahan legislasi yang dinilai dapat merusak fondasi demokrasi di Indonesia. Kericuhan tidak terhindarkan, menandai betapa seriusnya krisis yang dihadapi oleh bangsa ini.
Kericuhan di Bandung: ‘Rakyat Gugat Negara’
Di Bandung, suasana panas diwarnai oleh aksi massa yang tergabung dalam gerakan ‘Rakyat Gugat Negara’. Protes ini dimulai dengan perusakan baliho berukuran besar yang menampilkan wajah beberapa pejabat DPRD Jawa Barat serta Presiden terpilih 2024, Prabowo Subianto. Setelah merobek baliho tersebut, massa membakarnya di depan Gedung DPRD Jawa Barat, menandai eskalasi ketegangan yang semakin memanas.
Kondisi semakin tegang saat peserta aksi mulai bertindak destruktif, merusak fasilitas umum di sekitar lokasi demonstrasi. Polisi yang berada di lokasi akhirnya terpaksa menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang semakin tidak terkendali.
Makassar: Aksi GAM Dibubarkan karena Kunjungan Iriana Jokowi
Di Makassar, demonstrasi yang digelar oleh Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) di pertigaan Jalan AP Pettarani dan Jalan Letjen Hertasning berakhir dengan kericuhan. Massa yang berorasi bergantian menyuarakan dukungan terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 60 dan Nomor 70, menegaskan bahwa keputusan tersebut adalah suara rakyat yang harus dipatuhi oleh DPR.
“Kami tidak akan tinggal diam jika DPR melakukan pembangkangan terhadap konstitusi. Ini adalah pengkhianatan terhadap rakyat,” ujar Musa, salah satu orator dalam aksi tersebut.
Namun, situasi berubah ketika aparat keamanan membubarkan paksa demonstrasi tersebut karena adanya kunjungan Iriana Jokowi ke Makassar. Iriana berada di kota ini untuk menghadiri beberapa kegiatan, termasuk sosialisasi anti narkoba dan pengelolaan komoditas hortikultura skala rumah tangga.
Semarang: Massa Membawa Simbol ‘Kematian Demokrasi’
Sementara itu, pantauan di lapangan di Semarang, aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah berubah menjadi ricuh pada Kamis siang. Massa, yang mayoritas terdiri dari mahasiswa, memulai demonstrasi dengan damai sambil membawa keranda, payung jenazah, dan menaburkan bunga sebagai simbol kematian demokrasi di Indonesia.
“Aksi ini adalah simbol duka. Keranda ini menunjukkan bahwa demokrasi kita sedang sekarat,” ungkap Dio, salah satu peserta aksi.
Pernyataan tersebut mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap kondisi politik saat ini. Koordinator aksi, Rahmulyo Adi Wibowo, menambahkan, “Ini adalah protes terhadap mereka yang menghancurkan tatanan demokrasi yang kita perjuangkan.”
Namun, aksi damai berubah menjadi ricuh ketika massa mulai melemparkan barang dan merusak gerbang gedung DPRD. Polisi menanggapi dengan menembakkan gas air mata, menyebabkan massa mundur dari lokasi. Hingga berita ini diturunkan, massa masih berkumpul di sekitar gedung, menuntut agar pemerintah mendengarkan suara rakyat dan mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi sesuai dengan putusan MK. (**)