MELIHAT NDONESIA – KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha, memberikan penjelasan mendalam mengenai konsep tawasul dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube @GPDCorpSanggau, yang dikutip Melihat ndonesia.
Dalam video tersebut, Gus Baha menggunakan analogi sederhana namun penuh makna untuk menjelaskan bagaimana tawasul kepada Nabi Muhammad SAW dapat dipahami.
Gus Baha memulai dengan membandingkan tawasul dengan kebutuhan tubuh akan gizi. “Kamu ingin tubuh kamu sehat, butuh asupan gizi. Kemudian kamu makan kangkung, apa kamu cinta kangkung?” ujarnya dalam analogi tersebut. Melalui penjelasan ini, Gus Baha ingin menekankan bahwa tujuan utama seseorang bukanlah cinta terhadap makanan itu sendiri, tetapi cinta terhadap kesehatan yang dihasilkan dari makanan tersebut.
Ia melanjutkan bahwa cinta yang sejati adalah kepada tujuan akhir, yaitu kesehatan. “Cinta kesehatan kamu sendiri,” tambahnya. Dengan kata lain, ketika seseorang mencari kesehatan, mereka tidak hanya mencintai makanan yang mendukung kesehatan itu, tetapi lebih kepada hasil akhirnya.
Dalam konteks tawasul, Gus Baha menjelaskan bahwa tawasul kepada Nabi Muhammad SAW merupakan upaya mendapatkan ridha Allah melalui perantara orang yang sangat dicintai-Nya. “Orang yang bertawasul kepada Rasulullah itu ingin mendapatkan ridha Allah melalui orang yang dicintai Allah,” jelasnya.
Gus Baha menegaskan bahwa tawasul bukanlah bentuk penyembahan kepada Nabi, melainkan penghormatan dan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah. “Tawasul adalah cara kita mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara yang dicintai-Nya,” kata Gus Baha.
Dengan analogi tersebut, Gus Baha berharap agar umat Islam dapat memahami bahwa tawasul merupakan bagian dari ibadah yang bertujuan untuk memperoleh keberkahan dari Allah. “Ini adalah cara kita untuk mencari ridha Allah dengan menghormati dan mengikuti contoh Nabi Muhammad SAW,” tutupnya.
Dalam pandangan ini, Gus Baha memberikan wawasan yang dapat membantu umat Islam untuk lebih memahami konsep tawasul dan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengutip Nu Online, praktik tawasul sendiri telah menjadi diskusi panjang di kalangan umat Islam. Beberapa kalangan menganggapnya sebagai bentuk kemusyrikan, meskipun secara umum tawasul dianjurkan dalam Al-Quran, seperti pada Surat Al-Maidah ayat 35 yang menyatakan, “Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. Carilah wasilah kepada-Nya.”
Beberapa lafal tawasul yang umum digunakan di antaranya adalah:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Ya Allah, aku bertawasul kepada-Mu melalui kemuliaan Nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW).
Penjelasan rinci mengenai tawasul juga diberikan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, yang menekankan bahwa tawasul hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan tujuan utama atau objek ibadah. (**)