MELIHAT INDONSIA, SEMARANG – Rencana pengadaan susu ikan dalam menu makan bergizi gratis yang akan diterapkan pemerintah era Prabowo-Gibran, mendapat masukan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Ketua Umum IDAI, Dr Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, susu ikan untuk anak-anak di sekolah perlu dikaji ulang.
Daripada susu ikan, menurutnya, anak-anak lebih baik diberikan real food berupa olahan ikan sebagai pemenuhan gizi protein hewani.
“Anak sehat butuh ikan beneran yang diolah dengan aneka resep lezat. Harganya lebih murah dibanding jadi susu,” ujar Piprim usai acara Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (Konika) XIX di Semarang, Senin (30/9/2024).
Dia menganalogikan, satu butir telur seharga Rp2.000 setara dengan kandugan gizi pada susu ikan seharga Rp12.000.
“Dibanyakin di real foodnya saja. Pakai makanan lokal seperti ikan, kepiting, udang, ikan gabus, belalang. Itu sangat bagus,” tambahnya.
Piprim menegaskan, masukan yang IDAI berikan bukan berarti anti terhadap program makan siang gratis.
Kata dia, susu ikan lebih tepat diberikan untuk anak dengan indikasi medis tertentu.
“Susu ikan bukan untuk anak sehat begitu saja, makanya lebih bagus ikan aslinya yang diberikan,” imbuh Piprim.
Sisi lain, yang lebih penting dari memberikan makanan gratis untuk anak-anak sekolah adalah menjamin terpenuhinya asupan gizi pada ibu hamil dan bayi di nawah usai dua tahun. (*)