MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Nama Najwa Shihab kembali menjadi sorotan publik, tetapi kali ini bukan karena prestasinya di dunia jurnalistik, melainkan karena kontroversi yang mencuat di media sosial.
Setelah pernyataannya mengenai kepulangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Solo menggunakan pesawat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Najwa dihujani kritik hingga hinaan di platform TikTok, Instagram, dan X (dulu Twitter).
Potongan video saat Najwa menyebut Jokowi “nebeng” pesawat TNI AU beredar luas di dunia maya. Pernyataan ini disampaikan Najwa dalam siaran langsung pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029, yang membahas kepulangan Jokowi ke Solo.
Awalnya, Jokowi dikabarkan akan pulang dengan pesawat komersial, tetapi Presiden Prabowo Subianto dilaporkan menginstruksikan Jokowi menggunakan pesawat kenegaraan.
Netizen Serang Najwa di Media Sosial
Komentar Najwa memicu reaksi keras di media sosial. Banyak pengguna TikTok mengkritik ucapannya, menyebut Najwa sebagai “provokator” yang memicu perdebatan tak perlu.
“Najwa provokator negara, usir dari Indonesia pulangkan ke Yaman,” tulis salah satu warganet, sementara lainnya melontarkan komentar kasar dan rasis, yang dengan cepat menyebar di berbagai unggahan media sosial.
Sebagian warganet bahkan membakar buku karya Najwa, Catatan Najwa, sebagai bentuk protes, disertai tulisan sarkastik dalam video mereka. “Efek cuaca panas, bisa keluar api gini. Menyala Mbak Nana,” tulis mereka dalam video tersebut yang dibagikan di X.
Pembunuhan Karakter Terhadap Najwa Shihab?
Di tengah serangan ini, sejumlah pengguna X mempertanyakan motif di balik gelombang hujatan terhadap Najwa, yang dinilai sebagai bentuk “pembunuhan karakter” terhadap jurnalis yang terkenal kritis.
“Apa yang terjadi kepada Mba Najwa Shihab adalah bentuk nyata dari pembunuhan karakter (character assassination) atas keberaniannya dalam mengkritisi pemerintahan Indonesia,” tulis seorang pengguna X.
Pengguna X lain menambahkan bahwa serangan terhadap Najwa sudah dimulai sejak peringatan darurat beberapa waktu lalu dan semakin parah setelah pernyataan “nebeng” ini mencuat. Mereka menyebut serangan ini sebagai upaya membungkam suara kritis yang berpengaruh bagi masyarakat luas, terutama generasi muda. (**)