Rabu, Mei 20, 2026

Sejarah Nasi Kucing, Kuliner Khas yang Menggugah Selera dan Mengandung Sejarah Panjang

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Di balik gerobak angkringan yang banyak ditemukan di sudut-sudut kota, ada sebuah kuliner khas yang telah melegenda: nasi kucing. Nasi kecil yang biasanya dibungkus dengan daun pisang atau plastik tipis ini, dikenal luas di seluruh Indonesia, terutama bagi mereka yang gemar menikmati santapan malam dengan suasana santai. Namun, tidak banyak yang tahu asal usul dan sejarah di balik nasi kucing yang sederhana namun menyimpan cerita panjang.

Menurut Suwarna, seorang pegiat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, yang juga familiar dengan sejarah angkringan, nasi kucing pertama kali muncul pada sekitar tahun 1942 di Kota Solo.

Saat itu, seorang warga asal Dukuh Sawit, Desa Ngerangan, bernama Karso Djukut atau lebih dikenal dengan Mbah Djukut, memulai perdagangannya dengan menjual terikan (ikan teri) sambil membawa cerek berisi minuman. Namun, lambat laun, menu yang semula berupa terikan itu tergeser oleh menu nasi bungkus dengan lauk secuil daging bandeng atau gereh beserta sambalnya.

Nama “nasi kucing” pun mulai dikenal karena porsinya yang sangat kecil, seakan cocok untuk memberi makan kucing. Dalam sejarahnya, nasi kucing pertama kali identik dengan lauk sambal teri atau bandeng, makanan yang biasa digunakan untuk memberi makan kucing. Konon, nasi kucing ini menjadi pilihan banyak orang karena harganya yang terjangkau dan porsinya yang pas untuk mengisi perut tanpa berlebihan.

Perkembangan zaman membawa variasi baru dalam menu nasi kucing. Tak hanya lauk sambal teri atau bandeng, kini nasi kucing bisa disajikan dengan berbagai macam lauk, mulai dari sambal tempe hingga sambal belut. Meskipun begitu, satu hal yang tetap dipertahankan adalah porsinya yang kecil, yang masih sesuai dengan filosofi awal dari nasi kucing itu sendiri.

Salah satu keunikan angkringan adalah minuman khasnya, yakni teh panas legi kenthel atau lebih dikenal dengan nama nasgitel. Teh nasgitel ini pertama kali dipopulerkan oleh Wiryo Je, seorang warga Dukuh Sawit, Desa Ngerangan, pada era 1940-an. Wiryo mengenalkan teh kental hasil oplosan berbagai merek teh yang menjadi ciri khas angkringan hingga kini. Suwarna menjelaskan, meski banyak angkringan yang menjual teh, namun yang khas dari Ngerangan adalah teh yang diracik secara khusus dan disajikan menggunakan air yang dimasak dengan bara arang. Keunikan inilah yang memberikan cita rasa yang berbeda dibandingkan teh lainnya.

Cara meracik teh nasgitel juga memiliki tata cara khusus. Para bakul angkringan dari Ngerangan tidak pernah menggunakan teh celup, karena bagi mereka, teh oplosan yang diracik dengan tangan dan penuh perhatian adalah kunci utama untuk menghasilkan rasa yang sempurna. Menurut Suwarna, setiap langkah dalam proses pembuatan teh, mulai dari pemilihan bahan hingga cara menuangkan teh ke gelas, harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar rasa teh yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan selera para pelanggan.

Selain nasi kucing dan teh nasgitel, angkringan juga menyajikan menu khas lainnya, seperti jadah bakar, sate kere, jahe gepuk, dan teh lemon. Menu-menu ini semakin melengkapi daya tarik angkringan sebagai tempat makan yang tidak hanya menawarkan kuliner, tetapi juga pengalaman budaya yang kental. Angkringan bukan sekadar tempat untuk makan, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat, terutama di Desa Ngerangan, yang menjadi pusat berkembangnya usaha angkringan.

Suwarno juga menegaskan bahwa Desa Ngerangan memiliki peran penting dalam sejarah angkringan di Indonesia. Hingga saat ini, hampir 75 persen penduduk Ngerangan mengandalkan usaha angkringan sebagai sumber mata pencaharian utama. Bisa dikatakan, Ngerangan adalah satu-satunya desa di Indonesia yang ekonomi masyarakatnya didominasi oleh usaha angkringan. Hal ini menunjukkan betapa besar peran angkringan dalam kehidupan sosial dan ekonomi warga Ngerangan.

Dengan segala cerita dan sejarahnya, nasi kucing kini telah melintasi batasan waktu dan wilayah. Dari sebuah makanan sederhana yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, kini nasi kucing telah menjadi simbol kuliner khas yang terkenal di berbagai daerah. Tidak hanya di Solo atau Yogyakarta, angkringan dengan nasi kucingnya kini dapat ditemukan di banyak kota besar di Indonesia, menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin menikmati santapan lezat dan murah dengan suasana yang santai.

Namun, di balik keberhasilannya yang meluas, nasi kucing tetap mengingatkan kita akan akar tradisinya. Sebuah makanan yang lahir dari kekuatan tradisi dan semangat komunitas, yang hingga kini tetap dijaga dan dilestarikan oleh para pelaku usaha angkringan. Dengan cita rasa yang khas, nasi kucing menjadi bukti bahwa kuliner tradisional bisa bertahan lama dan terus berkembang, meskipun telah melewati berbagai perubahan zaman. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.