MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Koordinator Pusat Kajian Militer dan Kepolisian (Puskampol) Indonesia, Andy Suryadi mengungkap alasan mengapa muncul ketidakpercayaan terhadap polisi dalam penanganan kasus penembakan di Semarang.
Penembakan oleh anggota Satresnarkoba Polrestabes Semarang Aipda Robig Zaenudin itu menewaskan siswa SMKN 4 Semarang bernama Gamma Rizkynata Oktafandy.
Andy yang juga dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengatakan, ketidakpercayaan muncul dilatarbelakangi adanya persepsi negatif terhadap kinerja lembaga kepolisian.
“Selama ini yang dipersepsikan, jika ada masalah yang melibatkan oknum anggotanya, kepolisian tampak cenderung menutup-nutupi atau bahkan membela,” ucap Andy, Rabu (11/12/2024).
Pada kasus polisi tembak pelajar di Semarang, penjelasan awal Kapolrestabes Kombes Pol Irwan Anwar dirasa cenderung membela anggota.
Sebaliknya, Kapolrestabes semena-mena melabeli korban yang sudah meninggal sebagai gangster pelaku tawuran. Ini tentu cukup melukai perasaan keluarga korban dan menimbulkan tanda tanya bagi publik.
Sisi lain, terkuak rekam jejal Gamma selaku korban penembakan sebagai anak baik dan berprestasi. Pernyataan tersebut diungkap oleh keluarga, sekolah
maupun teman korban.
Identitas positif yang dilekatkankan kepada korban membuat publik ragu benarkah korban masuk geng tawuran, meskipun hal itu sebenarnya tidak dapat menjadi jaminan mutlak.
Kemudian, kata Andy, publik mendapat berbagai isu, kesaksian, atau bukti yang meski tidak semuanya tervalidasi, dianggap sebagai pembantah pernyataan pihak kepolisian.
“Tentu ini makin mempertebal keraguan, tidak hanya pada sebagian kronologi namun secara keseluruhan,” ungkapnya. (*)