MELIHAT INDONESIA, PURWOKERTO – Banyumas, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, dikenal dengan kekayaan seni tradisionalnya. Salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga kini adalah Lengger Banyumasan, sebuah tari tradisional yang memadukan keindahan gerak dan makna mendalam. Apa saja rahasia di balik tarian ini? Siapa saja yang boleh menarikan Lengger? Dan bagaimana sejarahnya berkembang? Yuk, kita telusuri bersama.
Makna di Balik Nama Lengger
Nama “Lengger” ternyata memiliki beberapa interpretasi menarik. Ada yang menyebut bahwa kata ini berasal dari frasa “eling ngger”, di mana “eling” berarti ingat, dan “ngger” adalah panggilan akrab untuk anak. Namun, versi lain menyatakan bahwa “Lengger” diambil dari kata “le” (sebutan untuk anak laki-laki) dan “ngger” (panggilan untuk anak perempuan).
Kesenian ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga melambangkan kesuburan, selaras dengan kondisi Banyumas yang agraris. Mayoritas penduduk Banyumas hidup sebagai petani, dan tarian ini dianggap sebagai ungkapan rasa syukur atas keberkahan alam.
Sejarah dan Peran Sosial Lengger
Dalam laman resmi warisanbudaya.kemdikbud.go.id, disebutkan bahwa Lengger Banyumasan mulai dikenal sekitar tahun 1755. Pada masa pra-kemerdekaan, tarian ini memiliki peran unik dalam melindungi martabat perempuan. Semua penarinya adalah laki-laki yang didandani menyerupai perempuan. Strategi ini dilakukan untuk mengelabui laki-laki hidung belang, termasuk kompeni, yang kerap berlaku tak senonoh.
Tidak hanya itu, menurut jurnal Universitas Negeri Yogyakarta, tari Lengger juga kerap menjadi simbol perlawanan halus terhadap penjajah. Dengan gamelan dan calung sebagai pengiring, tarian ini menyuarakan kebebasan dan semangat rakyat.

Struktur Pertunjukan Lengger
Pertunjukan Lengger Banyumasan biasanya terdiri dari empat babak: Gambyongan, Badutan, Ebeg-ebegan, dan Baladewan. Setiap babak memiliki makna dan daya tarik tersendiri:
- Gambyongan Babak pembuka ini ditandai dengan tarian Gambyong yang penuh kelembutan, melambangkan kelenturan perempuan. Selain itu, tari ini juga merupakan ucapan selamat datang kepada penonton.
- Badutan Babak ini menghadirkan tarian lucu yang diselingi lawakan khas Banyumasan. Selain menghibur, babak ini memberikan waktu istirahat sekitar 30 menit bagi penari Lengger sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
- Ebeg-ebegan Babak yang paling menegangkan karena menampilkan penari dalam kondisi kesurupan. Mereka melakukan atraksi ekstrem seperti makan pecahan kaca, menelan bara api, atau minum air bunga.
- Baladewan Sebagai penutup, tarian ini menggambarkan kembalinya roh leluhur ke alamnya. Baladewan mencerminkan penghormatan kepada para dewa yang diyakini membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Kelestarian di Tengah Modernisasi
Di tengah gempuran budaya modern, Lengger Banyumasan tetap bertahan. Tarian ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, peringatan hari besar, dan festival budaya. Penelitian dari berbagai akademisi juga terus dilakukan untuk mendokumentasikan keunikan Lengger.
Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan kesenian ini. Lengger Banyumasan bukan hanya warisan budaya Banyumas, tetapi juga identitas bangsa yang harus tetap hidup. Mari kita jaga dan kembangkan keindahan tradisi ini agar tetap relevan sepanjang masa. (**)