Sabtu, April 18, 2026

Garebeg Syawal, Jejak Budaya Keraton yang Tak Lekang Waktu

MELIHAT INDONESIA, YOGYAKARTA – Tradisi sakral yang dinanti kembali digelar. Hajad Dalem Garebeg Syawal, sebuah perayaan penuh makna dari Keraton Yogyakarta, hadir sebagai simbol keberkahan di Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Bukan sekadar ritual, prosesi ini mencerminkan filosofi mendalam tentang syukur dan harmoni yang telah dijaga selama berabad-abad.

Pada Senin (31/3/2025), iring-iringan gunungan, yang berisi aneka sesaji dan hasil bumi, dikawal dengan penuh khidmat oleh Bregada Bugis menuju Pendopo Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan Yogyakarta. Tak hanya masyarakat umum yang merasakan berkah dari perayaan ini, Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Daerah DIY pun turut menerima bagian dari gunungan tersebut sebagai bentuk restu dari Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Gunungan, Simbol Doa dan Keberkahan

Gunungan dalam Garebeg Syawal bukan sekadar tumpukan makanan, melainkan representasi nilai-nilai kehidupan. Berbagai elemen yang tersusun di dalamnya memiliki makna mendalam. Rengginang dan tlapukan bintang dalam lima warna khas melambangkan keseimbangan, rezeki, dan doa bagi kesejahteraan rakyat.

Kehadiran utusan dalem, KMT Purohadiparwoto dan KRT Sudarto Danarto, yang membawa gunungan ke Kepatihan menegaskan bahwa tradisi ini adalah amanat langsung dari Keraton. Setibanya di lokasi sekitar pukul 11.30 WIB, gunungan diterima oleh Sekretaris Daerah DIY, Beny Suharsono, bersama jajaran pejabat Pemda DIY.

Dalam sambutannya, Beny menyampaikan rasa syukur atas limpahan berkah dari Ngarsa Dalem. Ia menegaskan bahwa prosesi ini bukan hanya bagian dari tradisi, tetapi juga refleksi dari nilai berbagi dan kebersamaan.

Filosofi Warna dalam Gunungan

Lima warna dalam tlapukan bintang yang menghiasi gunungan membawa pesan filosofis yang dalam:

  • Hitam melambangkan keteguhan dan kewibawaan.
  • Putih merepresentasikan kesucian dan ketulusan hati.
  • Merah menggambarkan keberanian dan semangat juang.
  • Hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
  • Kuning menjadi simbol kejayaan dan kemuliaan.

Makna ini erat kaitannya dengan ajaran kebijaksanaan Jawa, seperti konsep kiblat papat limo pancer yang mencerminkan keseimbangan hidup serta pengendalian diri dalam menghadapi dunia.

Antusiasme ASN: Berkah yang Dinanti

Pembagian gunungan disambut dengan penuh sukacita oleh para ASN yang hadir. Rina Wulandari, salah seorang pegawai, mengungkapkan kebahagiaannya bisa mendapatkan bagian dari ubarampe tersebut.

“Saya merasa sangat bersyukur bisa menerima berkah dari gunungan ini. Semoga membawa keberuntungan dan kebaikan bagi keluarga saya,” ujarnya dengan wajah berbinar.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Arif Setiawan, seorang ASN lainnya. Ia menilai bahwa tradisi ini bukan hanya sebuah perayaan, tetapi warisan budaya yang harus terus dijaga.

“Garebeg Syawal adalah bagian dari identitas budaya Yogyakarta. Saya berharap tradisi ini tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Arif.

Menjaga Tradisi, Merawat Sejarah

Di balik prosesi Garebeg Syawal, terdapat pesan moral yang kuat: sebuah ajakan untuk terus menjaga budaya, merawat keberagaman, dan memperkuat harmoni sosial. Keraton Yogyakarta telah menorehkan jejak panjang dalam sejarah Nusantara, dan melalui tradisi ini, mereka memastikan bahwa nilai-nilai luhur tetap hidup dan bermakna.

Seiring berjalannya waktu, Garebeg Syawal bukan hanya sekadar ritual tahunan, melainkan cerminan dari kekayaan sejarah, spiritualitas, dan identitas yang terus mengakar dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.