MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Paskah tahun ini tak seperti biasanya. Di tengah sakit yang kian menggerogoti tubuhnya, Paus Fransiskus berdiri lemah di balkon Basilika Santo Petrus. Sorot matanya tajam, namun suaranya lirih menyayat. Dari altar Vatikan, dunia menyaksikan bukan hanya pesan Paskah, tapi mungkin seruan terakhir dari sang pemimpin umat Katolik yang telah menorehkan jejak mendalam bagi kemanusiaan.
Di hadapan ribuan umat yang memadati Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus membuka pidatonya dengan ucapan damai dan harapan. Namun suasana berubah muram saat ia menyinggung luka mendalam di Timur Tengah—Gaza.
“Saya mohon, hentikan perang ini… hentikan penderitaan ini,” katanya, menahan emosi.
Paus menyerukan gencatan senjata segera antara Israel dan Hamas. Seruannya tak hanya untuk pemimpin dunia, tetapi untuk nurani setiap manusia. Baginya, tragedi yang terjadi di Gaza bukan hanya konflik politik, tapi kehancuran nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
Ia menyebut komunitas Kristen di Gaza sebagai saksi bisu dari sebuah bencana yang kerap terlupakan dunia. Dalam suaranya, terkandung empati yang tulus dan kemarahan yang tak bisa ditutupi terhadap ketidakadilan yang berlangsung begitu lama.
“Bukan hanya batu dan debu yang hancur, tapi juga harapan,” ucapnya.
Tak hanya Gaza, Paus juga mengingatkan bahwa kemanusiaan sedang tergerus di berbagai belahan dunia. Dari Yaman hingga Sudan, dari Myanmar hingga Ukraina, semua adalah potret-potret luka global yang tak kunjung sembuh.
Ia mengajak dunia untuk tidak lagi membiarkan ketidakpedulian tumbuh subur. “Ketidakpedulian adalah dosa zaman ini. Ia membunuh lebih senyap dari peluru,” tegasnya.
Dalam banyak kesempatan sebelumnya, Paus Fransiskus memang kerap menggaungkan nilai belas kasih dan persaudaraan universal. Namun pidato kali ini terasa seperti wasiat. Sebuah warisan moral untuk generasi yang akan datang.
Ia menutup pesannya dengan doa panjang, menggetarkan hati mereka yang hadir dan yang menyaksikan melalui layar. Doa yang bukan sekadar ritual, tetapi permohonan terakhir seorang gembala kepada Sang Khalik.
Tak sedikit yang menitikkan air mata, menyadari bahwa mungkin ini kali terakhir mendengar pesan Paskah darinya secara langsung. Meski lemah secara fisik, Paus Fransiskus tetap berdiri tegar di hadapan umat, menunjukkan bahwa cinta dan nurani tak pernah bisa dikalahkan oleh sakit ataupun usia.
Dari balik salib Vatikan, dunia kini punya satu lagi alasan untuk merenung: jika pemimpin spiritual dunia saja menangis untuk Gaza, lalu mengapa kita masih bisa diam?
Pesan Paus ini tak akan mudah dilupakan. Ia telah meninggalkan jejak, bukan di dinding basilika, tapi di hati mereka yang masih percaya bahwa dunia ini bisa diselamatkan oleh kasih, bukan kekuasaan.
Sebagaimana ia pernah berkata, “Kemanusiaan kita diukur dari bagaimana kita memperlakukan yang paling rentan di antara kita.”
Kini, pesan itu bergema keras dari Vatikan, menembus batas benua dan bahasa, meruntuhkan dinding kebisuan, dan membakar ulang bara kepedulian yang nyaris padam.
Jika ini adalah pesan terakhir Paus Fransiskus untuk dunia, maka ia telah mengukirnya dengan air mata dan keberanian. Sebuah seruan agung yang akan terus bergema di antara reruntuhan Gaza, dan—semoga—di dalam hati kita. (**)