Kisah memilukan datang dari Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Seorang warga bernama Tarso hidup sebatang kara di sebuah rumah gubuk sederhana. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai pemulung barang bekas.
Kondisi ini langsung mendapat perhatian dari Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini (Budhe Rini), bersama jajaran Dinas Sosial P3A, Baznas Blora, Forkopimcam Jepon, dan Pemdes setempat. Mereka turun langsung ke lokasi untuk memastikan laporan warga.
“Setelah kami cek, memang benar adanya. Pak Tarso dulunya menikah dan punya anak, namun kini hidup sendiri setelah berpisah dengan istrinya. Kami ingin memastikan beliau mendapat perhatian,” ujar Budhe Rini.
Pemerintah daerah berkomitmen menindaklanjuti kasus ini sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah, yaitu melakukan pendataan warga miskin ekstrem secara menyeluruh melalui tim gabungan TNI-Polri dan perangkat desa.
Budhe Rini juga mengajak masyarakat Blora untuk aktif melapor bila ada warga yang membutuhkan perhatian khusus, agar pemerintah bisa cepat memberi solusi.
Sementara itu, Kepala Dinsos P3A Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan pendampingan penuh terhadap Tarso.
“Kami akan melakukan pemeriksaan psikologis dan memasukkan data Pak Tarso dalam DTKS, sehingga dapat memperoleh bantuan sosial yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sebagai wujud kepedulian, Baznas Blora menyalurkan bantuan Rp20 juta untuk pembangunan rumah layak huni di tanah milik orang tua Tarso. Selain itu, Dinsos P3A juga memberikan bantuan paket sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Langkah cepat pemerintah dan dukungan masyarakat ini diharapkan menjadi contoh nyata semangat gotong royong, sekaligus memastikan bahwa tidak ada warga miskin ekstrem di Blora yang luput dari perhatian.