Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan meminta perguruan tinggi berperan aktif melakukan penelitian untuk meningkatkan produktivitas bawang putih nasional.
Menurut Luhut, Indonesia membutuhkan bibit bawang putih yang tidak hanya berproduksi tinggi, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Ia menekankan bahwa persoalan bawang putih tidak bisa hanya dilihat dari sisi kuantitas, melainkan kualitas bibit yang digunakan petani.
Pernyataan tersebut disampaikan Luhut saat berbicara dalam acara Solo Investment Festival di Solo, Jumat (12/12/2025).
Luhut mendorong perguruan tinggi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta untuk terlibat langsung dalam riset pengembangan bawang putih.
Ia menyebut beberapa kampus seperti Universitas Sebelas Maret, Universitas Diponegoro, dan Universitas Gadjah Mada.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu melakukan studi tanah, khususnya di wilayah dengan ketinggian sekitar seribu meter yang cocok untuk budidaya bawang putih.
Luhut juga mengaku telah melakukan penelitian mandiri melalui genome sequencing untuk menemukan varietas bawang putih baru.
Penelitian tersebut dilakukan di kawasan Danau Toba pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut.
Ia menyebut riset tersebut dilakukan bersama profesor-profesor muda dengan pendanaan pribadi.
Luhut mengklaim hasil penelitian sudah menunjukkan perkembangan positif dengan bibit bawang putih yang memiliki hasil panen lebih tinggi.
Menurutnya, peningkatan produktivitas bawang putih berpotensi besar menekan ketergantungan impor.
Saat ini, nilai impor bawang putih Indonesia mencapai sekitar US$770 juta atau setara Rp12,8 triliun.
Jika impor dapat ditekan hingga 50 persen secara bertahap, Indonesia berpeluang menghemat hingga Rp4–5 triliun.