Peristiwa balita berusia 1,5 tahun yang diduga mengalami hipotermia di Gunung Ungaran mendadak viral dan menyita perhatian publik. Balita tersebut diketahui ikut mendaki bersama orang tuanya sebelum akhirnya dievakuasi oleh tim SAR.
Peristiwa ini mencuat setelah video evakuasi beredar luas di media sosial. Dalam unggahan tersebut disebutkan balita mengalami hipotermia saat berada di Puncak Bondolan akibat hujan yang turun di lokasi.
“Kronologi singkat, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian hingga mencapai puncak Bondolan. Namun saat berada di puncak, korban dan rombongan mengalami hujan sehingga suhu tubuh balita menurun dan menunjukkan gejala hipotermia,” tulis takarir unggahan akun tersebut.
Dalam video, balita terlihat menangis dan langsung ditangani petugas menggunakan emergency blanket sebelum dibawa turun oleh tim SAR.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, membenarkan kejadian tersebut dan memastikan kondisi balita saat ini sudah selamat.
“Posisi balita sudah turun dari Basecamp Perantunan, sudah dibawa pulang orang tuanya dalam kondisi selamat. Balita perempuan usia 1,5 tahun,” kata Bergas.
Ia menjelaskan kejadian bermula saat keluarga tersebut tetap melanjutkan pendakian hingga ke puncak meski cuaca memburuk.
“Peristiwa ini terjadi ketika satu keluarga ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian dan tiba di puncak sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, cuaca yang tiba-tiba memburuk disertai hujan deras menyebabkan suhu tubuh balita tersebut menurun drastis hingga mengalami gejala hipotermia,” ujarnya.
Sementara itu, pengelola basecamp, Dwi Purnomo, menyebut keluarga tersebut awalnya hanya berencana mendaki hingga pos tertentu dan tidak sampai puncak.
“Jadi si anak tersebut kan sama kedua orang tuanya izin mau jalan-jalan atau mau naik tapi enggak harus sampai puncak, mungkin sampai pos 3 atau 4,” kata Dwi.
Namun di tengah perjalanan terjadi perselisihan antara orang tua. Sang ibu memilih turun, sementara ayah tetap melanjutkan pendakian bersama anaknya.
“Karena cuaca tidak mendukung, si ibunya itu kan pengin turun, tapi si bapaknya kata info ibunya, bapaknya tetap ngotot pengin naik dan si anak tersebut mau dibawa ibunya ndak boleh sama bapaknya, tetap mau diajak naik,” jelasnya.
Dwi menegaskan kondisi balita tidak separah yang viral dan menyebut anak tersebut menangis karena ingin bertemu ibunya.
“Jadi sebenarnya nggak seseram kayak di media sosial ya, anak itu nangis bukan karena sakit atau hipotermia, nggak. Memang pengin ketemu ibunya,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bagi pengelola yang berencana memperketat aturan pendakian, termasuk melarang balita ikut naik gunung.